TribunJateng/

Pengguna Tol Salatiga Keluhkan Tarif di Medsos, Begini Penjelasan Operator

Muncul keluhan beberapa pengguna Tol Salatiga di dalam media sosial (medsos) terkait tarif atau sistem tersebut.

Pengguna Tol Salatiga Keluhkan Tarif di Medsos, Begini Penjelasan Operator
TRIBUN JATENG/F ARIEL SETIAPUTRA
Kendaraan melintasi gerbang tol Tingkir, Salatiga, saat arus mudik Lebaran, Sabtu (24/6/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - PT Trans Marga Jateng (TMJ), operator ruas Tol Semarang-Solo, mulai Jumat (15/9/2017), memberlakukan sistem transaksi tertutup di gerbang tol.

Para pengguna tol diwajibkan membayar tarif secara nontunai.

Sementara ini, ada dua konsep yang diterapkan di setiap gardu tol.

Pertama, transaksi menggunakan kartu tanda masuk elektronik (KTME).

Kemudian otomatis atau melalui uang elektronik berupa kartu e-Money dan semacamnya.

Di sisi lain, muncul keluhan beberapa pengguna Tol Salatiga di dalam media sosial (medsos) terkait tarif atau sistem tersebut.

Ada pula yang mengeluhkan kemacetan yang panjang di beberapa gerbang tol.

Manajer Operasional dan Teknik TMJ, Fauzi Abdurrahman, langsung memohon maaf.

Dia menyatakan sejak diterapkan, sistem akan terus dievaluasi.

“Kami tak menampik bahwa tak sedikit anggota masyarakat yang belum memahami sistem transaksi tertutup. Ini terus kami evaluasi dan akan gencar sosialisasikan hingga akhir Oktober. Kami mohon maaf kalau masih terjadi antrean kendaraan yang cukup panjang,” kata Fauzi kepada Tribunjateng.com, Minggu (17/9/2017).

Bagaimana dengan pengguna yang mengeluhkan tarif Tol Salatiga?

Menurutnya, besar kemungkinan karena ada yang belum paham atas perubahan sistem itu.

“Memang masih butuh penyesuaian atas perubahan sistem ini. Terkait tarif yang disebut tidak masuk akal, bisa jadi karena kekurangpahaman sistem tersebut,” terang dia.

Dia menggambarkan, kalau pengguna tol sudah memiliki e-Money atau semacamnya,tak perlu menekan tombol hijau di gerbang tol (GT) Banyumanik atau GT Tingkir.

Mereka cukup menempelkan kartu e-Money itu saja di mesin yang biasa.

Selanjutnya, pembayaran dilakukan pada saat keluar dari tol dengan menempel kartu itu lagi di gerbang tol lokasi keluar.

“Jadi kalau mengambil KTME dan menempel e-Toll juga, pada saat pembayaran di GT Ungaran, GT Bawen atau GT Tingkir, sistem secara otomatis akan membaca dobel. Kalau begitu, pembayarannya terkesan dobel,” paparnya.

Fauzi menengarai hal itu yang kemungkinan besar terjadi.

Dalam istilah tol adalah melanggar median pada saat memasuki gerbang.

Masalah ini akan terus diedukasikan dan disosialisasikan kepada pengguna jalan.

Baik secara langsung oleh petugas maupun di berbagai media.

“Sekali lagi kami mohon maaf, semua ini menjadi bahan evaluasi kami. Evaluasi terus berjalan hingga akhir Oktober 2017, saat penerapan sistem pembayaran nontunai di seluruh gerbang tol sudah 100 persen berjalan,” terang Fauzi. (*)

Penulis: deni setiawan
Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help