Perahu Pengungsi Rohingya Tenggelam, Puluhan Orang Tewas Termasuk Anak-anak

Sekitar 60 pengungsi Rohingya dikhawatirkan meninggal ketika perahu yang mereka tumpangi untuk melarikan diri dari Myanmar tenggelam.

Perahu Pengungsi Rohingya Tenggelam, Puluhan Orang Tewas Termasuk Anak-anak
REUTERS
Pengungsi Rohingya memasuki Bangladesh untuk menhindari gelombang kekerasan di Rakhine, Myanmar. 

TRIBUNJATENG.COM - Sekitar 60 pengungsi Rohingya dikhawatirkan meninggal dunia ketika perahu yang mereka tumpangi untuk melarikan diri dari Myanmar tenggelam di lepas pantai Bangladesh.

Seorang juru bicara PBB mengatakan sejauh ini terdapat 23 orang yang dipastikan meninggal dunia setelah perahu tenggelam di tengah ombak besar, Kamis malam (28/9/2017) waktu setempat.

Ditambahkannya lebih dari 40 orang masih 'hilang dan diyakini telah tenggelam'.

Menurut juru bicara Organisasi Migrasi Internasional (IOM), Joel Millman, mengatakan bahwa berdasarkan keterangan para penumpang yang selamat, perahu yang tenggelam itu mengangkut sekitar 80 orang.

"Para korban selamat mengaku berada di laut semalam suntuk tanpa makanan," tambahnya.

Ternak dan makanan diambil
Di antara penumpang yang meninggal dunia terdapat anak-anak.

Seorang korban selamat mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa istrinya, dua putrinya beserta seorang cucu meninggal dunia dalam peristiwa itu. Dituturkannya mereka memutuskan untuk melarikan diri dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar, setelah orang-orang Buddha bersenjata mengambil ternak dan makanan dari mereka.

Sebelum peristiwa terbaru ini, puluhan orang Rohingya meninggal dunia dalam upaya menyeberang ke Bangladesh di tengah operasi militer di Rakhine yang dilancarkan setelah milisi Rohingya menyerang pos-pos keamanan pada tanggal 25 Agustus lalu.

Sejak kekerasan pecah, lebih dari 500.000 orang Rohingya -yang tidak diakui sebagai warga negara Myanmar - menyelamatkan diri ke Bangladesh. Mereka menggunakan perahu untuk menyeberangi Sungai Naf yang menjadi perbatasan kedua negara, atau melalui laut.

Mereka yang berhasil keluar dari Myanmar menuduh militer negara itu, dengan dukungan milisi Buddha, melakukan pembunuhan brutal dan membakar desa-desa warga Rohingya untuk mengusir mereka.

Militer menepis tegas tuduhan tersebut dengan mengatakan pihaknya menyasar milisi Rohingya.

Myanmar juga menepis tudingan para pejabat PBB bahwa negara itu terlibat dalam pemusnahan etnik Rohingya di Rakhine, negara bagian yang ditempati oleh sebagian besar orang Rohingya.

Delegasi PBB sedianya Kamis kemarin (28/09) melakukan kunjungan ke Rakhine untuk mencari tahu sebab-sebab begitu banyak orang Rohingya melarikan diri, tetapi kunjungan itu dibatalkan. (BBC Indonesia)

Editor: sujarwo
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help