TribunJateng/

BPK Kaji Pendapatan Nelayan Cantrang di Tegal

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan dialog dengan sejumlah nelayan cantrang di Pelabuhan Perikanan Tegalsari, Kota Tegal

BPK Kaji Pendapatan Nelayan Cantrang di Tegal
tribun jateng/istimewa
Tim BPK RI tengah berdialog dengan perwakilan nelayan cantrang di Kantor Pelabuhan Perikanan Tegalsari, Kota Tegal. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM,TEGAL- Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan dialog dengan sejumlah nelayan cantrang di Pelabuhan Perikanan Tegalsari, Kota Tegal.

Selain itu, BPK juga melakukan kajian terhadap pendapatan nelayan setelah wacana pelarangan alat tangkap cantrang.

"Kami di sini untuk mengumpulkan semua dokumen- dokumen. Semua pihak kami minta dokumennya, sebagai bahan kami," kata seorang perwakilan tim dari BPK RI, Oki, dalam rilis yang diterima Tribun Jateng, Jumat (6/10/2017).

Selain nelayan cantrang, BPK juga melakukan kajian dan dialog kepada pekerja perikanan lain yang terdampak beleid larangan cantran. Mereka di antaranya, pemilik kapal, pekerja filet ikan, perajin tambang atau tali cantrang, dan sebagainya.

"Kota Tegal sebagai sampling untuk mengumpulkan bukti- bukti bahwa nelayan pendapatannya turun setelah ada larangan cantrang. Kami ingin mendapatkan informasi yang valid dari pelaku usaha, perusahaan, produsen tali dan lain- lain," jelasnya.

Pengkajian yang dilakukan BPK meliputi dampak sebelum dan sesudah kapal cantrang dilarang berlayar, meskipun larangan tersebut belum resmi ditetapkan.

"Dampak ekonomi sosisal yang terjadi sebelum dan sesudah larangan cantrang seperti apa. Jadi kami memperoleh data yang benar secara langsung melalui wawancara dan bukti tertulis," imbuh Oki.

Perwakilan dari paguyuban nelayan Kote Tegal, Susanto Agus Priyono, menyampaikan dampak pelarangan cantrang yang sangat dirasakan nelayan dan profesi di bidang perikanan lain.

"Dampak itu dapat dirasakan kami. Saat cantrang diberhentikan, kami mau dikemanakan. Harusnya Menteri Perikanan mengatur bukan melarang cantrang," tutur Susanto.

Menurutnya, cantrang sudah dipakai menjadi mata pencahariaan para nelayan di Kota Tegal sejak tahun 1980-an.

Kesejahteraan nelayan meningkat, kata dia, karena bergantung pada alat tangkap arad dan cantrang.(*)

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help