TribunJateng/

Prihatin, Grebeg Suran Dilakukan di Mata Air Keruh Curug Cipendok

Drama itu menceritakan tentang penderitaan masyarakat bawah yang diwakili Petruk dan Gareng

Prihatin, Grebeg Suran Dilakukan di Mata Air Keruh Curug Cipendok
Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
Pembakaran dupa di antara sesaji dalam grebeg Suran di curug Cipendok 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Ada yang beda dalam pelaksanaan grebeg suran di desa Karang Tengah tahun ini.

Masyarakat menggelar aksi teatrikal bertajuk Nala Gareng Petruk Wuru Banyu Butek Letrek Belok Lepot Kang Bawor Njempling Kipati Kilurah Semar Munggah Kahyangan di halaman parkir objek wisata curug Cipendok, Karangtengah Cilongok.

Drama itu menceritakan tentang penderitaan masyarakat bawah yang diwakili Petruk dan Gareng. Penduduk nelangsa karena mata air sebagai sumber kehidupan mereka keruh (butek).

Pemuka adat menyembelih itik lalu dilarung di aliran sungai Cipendok bawah curug Cipendok.
Pemuka adat menyembelih itik lalu dilarung di aliran sungai Cipendok bawah curug Cipendok. (Tribun Jateng/Khoirul Muzaki)

Petruk dan Gareng melaporkan keluhan warga kecil itu ke bapaknya, Semar, sang pamomong.

Semar kemudian naik ke Kahyangan menghadap dewa untuk meneruskan aduan rakyat. Kepada sang dewa, Semar berharap, penderitaan rakyat bisa dihapuskan.

"Ini wujud keprihatinan kami atas masalah yang dihadapi warga di Kecamatan Cilongok. Mereka menderita karena mata air sumber kehidupan mereka keruh karena ulah manusia," kata Titut Edi Purwanto, seniman Banyumas yang mementaskan atraksi teatrikal, Sabtu (7/10)

Usai aksi teatrikal, puluhan warga berpakaian adat Jawa mengarak sesaji berwadah nampan menuju curug Cipendok. Seekor itik putih yang terikat kakinya turut diarak dengan cara dibopong.

Warga dan seniman Banyumas memainkan aksi teatrikal bertajuk air keruh di komplek curug Cipendok Cilongok.
Warga dan seniman Banyumas memainkan aksi teatrikal bertajuk air keruh di komplek curug Cipendok Cilongok. (Tribun Jateng/Khoirul Muzaki)

Perjalanan menuju air terjun itu harus melewati jalan setapak sejauh sekitar 800 meter.

Suara gemuruh air menandai perjalanan mereka mendekati titik akhir. Deburan air terjun serupa gerimis kecil membuat pakaian cukup basah. Sesaji yang dilengkapi dupa wangi diletakkan di dasar tebing lalu didoakan.

Halaman
12
Penulis: khoirul muzaki
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help