TribunJateng/

FOCUS

Saatnya Mengandalkan Ilmu Titen

Saatnya Mengandalkan Ilmu Titen. Rektor UGM Dwikorita Karnawati pernah membagikan ilmu titen dalam membaca gejala alam

Saatnya Mengandalkan Ilmu Titen
tribunjateng/grafis/bram
RIKA IRAWATI wartawan Tribun Jateng 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Farida, warga Desa Kali Jeruk, Kecamatan Kawunganten, Cilacap, bergegas menggendong buah hatinya yang masih terlelap, saat mendengar suara kentongan yang dipukul bersahutan, Sabtu (7/10/2017) dini hari.

Sementara sang suami, mengemasi beberapa pakaian dan barang-barang penting. Tak lupa, dia membangunkan kemudian menggendong si sulung. Keluarga kecil ini bergegas meninggalkan rumah menuju dusun tetangga yang berada di dataran lebih tinggi.

Farida dan keluarga kecilnya tak sendiri. Sekitar 234 kepala keluarga (KK) di desa tersebut juga mengungsi. Mereka menghindari banjir yang setiap musim hujan datang, melanda wilayah itu.

Memang, topografi pemukiman desa tersebut lebih rendah dari sungai yang melintasi desa. Itu sebabanya, saat air sungai meluap, pemukiman tempat tinggal Farida tergenang air. Yang terparah, ketinggian air bisa mencapai dua meter.

Banjir dan longsor menyertai datangnya musim hujan di Jawa Tengah. Sebelum banjir di Cilacap, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng mendapat laporan adanya tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Banyumas.

Memang, bencana alam di tiga wilayah tersebut belum sampai menimbulkan korban, dan semoga tidak. Namun, intensitas hujan yang terus meningkat, harus memantik kewaspadaan kita.

BPBD Jateng memetakan, setidaknya ada 24 kabupaten/kota yang rawan banjir. Sementara, 21 kabupaten/kota rawan longsor. Tentu saja, di antara kabupaten/kota itu ada yang punya predikat rawan longsor sekaligus banjir.

Kalau sudah seperti ini, apa yang harus dilakukan? Setidaknya, upaya pencegahan harus diutamakan. Banjir akibat luapan sungai bisa diantisipasi lewat cara tidak membuang sampah di sungai. Membersihkan gorong-gorong di lingkungan tempat tinggal juga belum terlambat dilakukan.

Selain upaya pencegahan, kita juga harus menguasai ilmu titen. Titen yang berasal dari Bahasa Jawa ini punya kedekatan arti dengan peka terhadap tanda dari hasil pengamatan atau pencermatan. Ilmu titen bisa timbul karena "biasanya".

Rektor UGM Dwikorita Karnawati pernah membagikan ilmu titen dalam membaca gejala alam akan timbulnya bencana. Profesor bidang geologi yang lebih dikenal sebagai pakar dan pengamat masalah kerentanan tanah akibat gempa bumi ini mencontohkan tanda-tanda longsor.

"Jika ada rekahan tanah, apalagi jika berbentuk tapal kuda, patut diwaspadai terjadinya longsor. Warga di area dalam rekahan tapal kuda harus segera mengungsi jika terjadi hujan deras lebih dari satu jam. Atau, kalaupun tidak deras, tapi hujan yang berlangsung lama, juga menyumbang kejenuhan air dalam tanah yang memicu longsor," kata Dwikorita kepada wartawan saat mengunjungi wilayah rawan longsor di Kabupaten Karanganyar, beberapa tahun lalu.

Untuk menandai datangnya banjir bandang, Dwikorita juga membagikan ilmu titen. Di antaranya, mencermati perubahan warna air sungai. Jika air sungai tiba-tiba berubah keruh padahal hujan belum turun, hal ini menjadi tanda hujan deras telah mengguyur wilayah di hulu sungai. Peningkatan debit air sungai 10-20 sentimeter bisa mendatangkan secara tiba-tiba arus deras atau banjir bandang.

Ilmu titen yang muncul karena kejadian yang "biasa" menyertai setiap bencana alam datang memang bukan patokan utama. Tapi, tak ada salahnya digunakan untuk membaca tanda-tanda alam demi keselamatan bersama. (tribunjateng/Rika Irawati)

Penulis: rika irawati
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help