TribunJateng/

LIPUTAN KHUSUS

Yuni Sampai Lupa Sudah Daftar Merek, Betapa Sulit UKM Mendapat Hak Branding Produk‎

Yuni Sampai Lupa Sudah Daftar Merek, Betapa Sulit UKM Mendapat Hak Branding Produk‎

Yuni Sampai Lupa Sudah Daftar Merek, Betapa Sulit UKM Mendapat Hak Branding Produk‎
TRIBUN JATENG/HESTY IMANIAR/DOK
Seorang perempuan membatik pakai canting di depan sejumlah model di kawasan gedung Lawangsewu, Semarang, Selasa (2/10/2017). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kesadaran pentingnya mempunyai sebuah merek dagang‎ yang secara resmi terdaftar dirasakan Wahyuni Budi Handayani (45), warga Kelurahan Jatingaleh, Kecamatan Candisari, Semarang.

Meski usaha produk herbal miliknya masih terbilang rintisan, ia tak segan mendaftarkan branding produknya itu, Noen Oemah Rempah. Ia mendaftarkan mereknya ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Indonesia.

"Saya tahu hak merek itu penting‎. Saya tak ingin nanti ada kasus terkait dengan merek yang saya pakai," katanya, kepada Tribun Jateng, baru-baru ini.

=====================================
Para pelaku usaha mengalami kendala dalam mengurus pendaftaran merek dagang untuk produknya.
Proses pengurusan merek dagang yang panjang dan tidak jelas tak jarang merugikan pelaku usaha.
Tak adanya kanal informasi yang dapat diakses pendaftaran membuat pendaftaran merek itu menjadi rumit dan sulit.
=====================================

Meski usaha olahan rempah dan produk herbal miliknya baru seumur jagung, ia tak ragu mengurus pendaftaran branding produk yang digunakannya. Ia tak ingin jika ke depan tahu-tahu ada pihak yang menggunakan merek yang telah dibrandingnya dengan susah payah mulai dari nol.

"Saya mulai merintis usaha ini sejak 2011, tak lama kemudian saya coba mendaftarkan merek yang saya pakai melalui jasa konsultan," ucapnya.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang Litani Satyawati (empat dari kiri), didampingi Deputy Executive Vice President Marketing Telkom Regional IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Firdaus Roeswandi (tiga dari kiri), di Gedung Merah Putih Telkom, Jalan Pahlawan Semarang, Jumat (28/4/2017).
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang Litani Satyawati (empat dari kiri), didampingi Deputy Executive Vice President Marketing Telkom Regional IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Firdaus Roeswandi (tiga dari kiri), di Gedung Merah Putih Telkom, Jalan Pahlawan Semarang, Jumat (28/4/2017). (tribunjateng/raka f pujangga)

Yuni menuturkan, konsultan yang mengurus pendaftaran hak mereknya berada di Yogyakarta. Kala itu, konsultan tersebut dipercaya setelah ia mendapat rekomendasi dari seorang temannya.
Ia pun segera mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mengurus hak merek tersebut, termasuk soal biaya yang harus dikeluarkan.

Saat itu, Yuni harus merogoh kocek sekitar Rp 2 juta untuk biaya pengurusan. Tetapi, hingga beberapa waktu berselang, ia tak kunjung mendapat kejelasan kabar soal sampai sejauh mana proses pengurusan merek dagang miliknya.

"Pada waktu itu, katanya sudah dicek, tak ada yang menggunakan, memang katanya proses ngurusnya agak lama. ‎Tapi setelah menunggu bertahun-tahun, tak ada kabar merek saya sudah disetujui atau tidak, bahkan saya sampai lupa kalau sudah pernah mengurus pendaftarannya," ucapnya.

‎Terlebih, Yuni pun kini juga sudah tak bisa lagi menghubungi konsultan yang dulu mengurus pendaftaran merek dagang miliknya. Hal itu karena nomor ponsel yang dipakai konsultan itu sudah tak aktif.

Halaman
123
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help