TribunJateng/

success story

KISAH Perjalanan Andhy Irawan dari Karyawan hingga Kelola Banyak Hotel

Memulai karir sebagai karyawan hotel hingga mempunyai jabatan puncak tidak lantas membuat Andhy Irawan berpuas diri

KISAH Perjalanan Andhy Irawan dari Karyawan hingga Kelola Banyak Hotel
TRIBUNJATENG/HERMAWAN HANDAKA
KISAH Perjalanan Andhy Irawan dari Karyawan hingga Kelola Banyak Hotel 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Memulai karir sebagai karyawan hotel hingga mempunyai jabatan puncak tidak lantas membuat Andhy Irawan berpuas diri. Ia bahkan nekat keluar dari hotel tempat kerjanya dan mulai merintis Hotel Dafam dari nol bersama Billy Dahlan.

Karena kegigihannya, kini Hotel Dafam telah menggurita dengan 26 jaringan hotel di bawahnya. Berikut wawancara wartawan Tribun Jateng M Zainal Arifin dengan Chief Executive Officer (CEO) Dafam Hotel Management itu, beberapa waktu lalu.

Kapan awal mulai merintis Hotel Dafam?

Hotel Dafam kali pertama berdiri pada 7 Juli 2010. Setelah saya keluar dari tempat kerja yang lama, saya diajak Bapak Billy Dahlan, putra Bapak Soleh Dahlan membangun hotel. Jadi proses pendirian Hotel Dafam hanya berdua saja, yaitu saya dengan Pak Billy Dahlan.

Di awal pembangunan, kami mencari sendiri perlengkapannya, bahkan sampai ke luar negeri. Hingga pernah juga makan mi berdua di pinggir jalan karena kelelahan mencari bahan-bahan. Pembangunan hotel ini dilandasi semangat berdikari di negeri sendiri. Sehingga, dari awal sampai sekarang masih kami jaga keindonesiaannya. Dengan melihat market, kami bikin hotel dengan biayai sendiri.

Bagaimana perkembangan Hotel Dafam hingga sekarang?
Berawal hanya satu hotel, kini sudah ada 26 hotel yang tersebar di 14 Kota di Indonesia. Nama Dafam ini pula yang kemudian dijadikan "rumah besar" atau korporate menjadi Dafam Group. Sedangkan Hotel Dafam sendiri menjadi divisi yaitu Dafam Hotel Management (DHM) yang saya pimpin. Karena kami berkembang dan agresif kemudian tidak jarang investor ingin masuk. Dulu, awalnya juga hanya ada 3-4 orang karyawan. Kemudian seiring bertambah cabang, sekarang karyawan menjadi 1.500 orang.

CEO Dafam Hotel Management Andhy Irawan
CEO Dafam Hotel Management Andhy Irawan (tribunjateng/hermawan handaka)

Melihat kesuksesan anda, pernahkah ada investor lain yang mencoba meminta jasa anda?
Banyak sekali. Begitu Hotel Dafam besar seperti sekarang, banyak godaan dari investor lain. Mereka menawarkan iming-iming dengan gaji yang lebih besar dan iming-iming lainnya. Tapi saya tolak semua karena saya komitmen di Dafam Hotel Management. Tidak ada alasan saya harus mengkhianati Pak Soleh Dahlan selaku Komisaris Utama Dafam Group karena sudah seperti ayah saya sendiri. Bagi saya, sukses ukurannya hati. Saya harus bermanfaat bagi orang lain sebanyak-banyaknya. Bukan mencari harta kekayaan sebanyak-banyaknya.

============================================
CEO Dafam Hotel Management

Nama : Andhy Irawan
Alamat : Perumahan Plamongan Hijau, Semarang
TTL : 24 Maret
Nama Istri : Noor Idhayati
Nama Anak : Nurlita Asri Andriani

Pendidikan
- SDK Glenmore - Banyuwangi
- SMP 1 Jember
- SMA 1 Jember
- S1 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jember
- Cornel University, New York
- Nanyang Technology University, Singapore (MBA program)

Karir Pekerjaan :
- Sheraton Lagoon Nusa Dua Bali
- Surabaya Hilton International
- Novotel Yogyakarta
- Ciputra Semarang
- Arion Swissbelhotel Bandung
- Santika Premier Semarang
- Dafam Hotel Management (DHM)
============================================

Apakah ada rencana pengembangan Hotel Dafam dengan menambah cabang lagi?
Iya ada dan itu harus terealisasi. Bagi saya, tidak ada yang tidak mungkin. Saat ini sudah ada 26 hotel. Pada 2018 mendatang, kami akan menambah 10 hotel lagi. Ditargetkan pada 2025, kami sudah memiliki 100 hotel yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Kalau rencana pengembangan di luar negeri sebenarnya ada. Namun kami fokuskan dulu di dalam negeri. Kalau sudah berjaya di negeri sendiri, baru kami berpikir untuk membuka di luar negeri.

Apa kunci keberhasilan anda membesarkan Dafam Hotel Management?
Saya menjalankan bisnis ini bersama Billy Dahlan selaku Komisaris di DHM. Poinnya, kami berdua tahu apa yang harus dijalankan. Sehingga kami mengembangkan sendiri-sendiri tugas. Saya membesarkan Dafam Hotel Management dan beberapa investor, kemudian Pak Billy Dahlan mencari celah untuk pengembangan lainnya.

Kendala apa yang dialami dalam membesarkan DHM dan bagaimana mengatasinya?
Ada. Pertama kendala di internal itu manusianya. Mengelola bisnis lebih gampang, kalau manage manusianya itu yang susah. Karena setiap orang atau karyawan visinya beda-beda. Kemudian kami kombinasikan dengan kultur di DHM, yaitu bekerja dengan jujur serta kerja keras, kerja tuntas, kerja smart, dan kerja iklas. Kalau profesional, bisa kami maintainance sehingga bisa sesuai sebagaimana yang kami inginkan.

Kedua eksternal. Dalam menjalankan bisnis hotel ini, kami punya prinsip. Kami banyak bertemu investor tapi kebanyakan tidak sesuai prinsip kami. Mereka ada yang kaku, ada yang fleksibel. Karena apapun bisnis itu harus bermanfaat. Mendapatkan opportunity dan keuntungan yang besar sekalipun, kalau tidak bermanfaat bagi orang lain, percuma saja. Karena tidak sesuai prinsip kami, sehingga kami tolak dan para investor kemudian mencari operator lain. (tribunjateng/cetak/m zainal arifin)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help