TribunJateng/

Kode Kopi Coro dalam Pembahasan APBD Kota Semarang Pernah Populer, Apakah Itu?

Hasil survei Indeks Persepsi Korupsi Indonesia menempatkan Kota Semarang di peringkat 3 terbaik pada 2015.

Kode Kopi Coro dalam Pembahasan APBD Kota Semarang Pernah Populer, Apakah Itu?
TRIBUN JATENG/GALIH PERMADI
Hendrar Prihadi memberi sambutan dalam Workshop Integritas oleh KPK di Hotel Ciputra Semarang, Rabu (11/10/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Galih Permadi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Istilah “Kopi Coro” pernah populer di kalangan legislatif dan eksekutif Kota Semarang.

Istilah tersebut merupakan kode rahasia bagi uang pelicin dan kesepakatan tidak resmi yang terjadi dalam pembahasan APBD.

Kasus kopi coro ini sempat menggegerkan pada masa kepemimpinan wali kota terdahulu yang berujung operasi tangkap tangan oleh petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Wali Kota Hendrar Prihadi menegaskan istilah kopi coro sudah dihilangkan pada masa pemerintahannya.

Hendi, sapaannya, ingin menjadikan Kota Semarang yang bersih, akuntabel, dan berintegritas.

"Tidak ada lagi istilah kopi coro. Setiap kebijakan yang dihasilkan Pemkot dan DPRD Kota Semarang berdasarkan hasil musyawarah mufakat tanpa uang pelicin dan kesepakatan-kesepakatan yang masuk ranah tindak pidana korupsi,” kata Hendi dalam Workshop Pembangunan Budaya Integritas Eksekutif dan Legislatif oleh KPK di Hotel Ciputra Semarang, Rabu (11/10/2017).

Selama tiga hari hingga Jumat, KPK menggembleng jajaran eksekutif dan legislatif Kota Semarang dalam workshop ini.

Peserta adalah pejabat eselon II dan III Pemkot Semarang dan anggota DPRD Kota Semarang.

Menurut Hendi, dalam membangun bangsa Indonesia dibutuhkan pemerintahan yang bersih dan baik.

Halaman
123
Penulis: galih permadi
Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help