TribunJateng/

Menangkap dan Mengobati Orang Gila, Ini Ganjaran yang Diterima Bripka Sahabuddin dari Kapolri

Bripka Sahabuddin yang sehari-hari bertugas sebagai Bhabinkamtibmas ini menerima penghargaan karena mengobati puluhan orang gila.

Menangkap dan Mengobati Orang Gila, Ini Ganjaran yang Diterima Bripka Sahabuddin dari Kapolri
KOMPAS.com/Hendra Cipto
Kanit Binmas Polsek Tanete Riaja, Polres Barru, Bripka Sahabuddin (kanan), mendapat piagam penghargaan dari Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian serta kesempatan mengikuti pendidikan perwira Polri atau Sekolah Inspektur Polisi (SIP) pada tahun 2018. 

TRIBUNJATENG.COM, MAKASSAR - Kanit Binmas Polsek Tanete Riaja, Polres Barru, Bripka Sahabuddin (41), mendapat piagam penghargaan dari Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian serta kesempatan mengikuti pendidikan perwira Polri atau Sekolah Inspektur Polisi (SIP) pada tahun 2018.

Bripka Sahabuddin yang sehari-hari bertugas sebagai Bhabinkamtibmas ini menerima penghargaan karena mengobati puluhan penderita gangguan jiwa.

Setiap menemukan penderita gangguan jiwa, Sahabuddin menangkap lalu menahan sambil melakukan pengobatan. Dia mengobati menggunakan pendekatan rohani secara cuma-cuma.

(Baca: KISAH Empat Polisi Pekalongan Patungan Tambal Lubang Jalan, Tiap Hari Lihat Pemotor Jatuh)

Pernah suatu ketika, Sahabuddin sukses menjinakkan warga penderita gangguan jiwa bernama Ambo (50). Padahal, sehari-hari, Ambo menenteng dua bilah parang dan tombak. Ambo akhirnya dimasukkan ke RSJ Dadi di Makassar.

Usai peristiwa ini, satu per satu kepala dusun di wilayah tempat Sahabuddin berdinas, datang melapor dan minta tolong ke Sahabuddin untuk menangkapi warga yang gangguan jiwa.

Semenjak itulah, Sahabuddin dijuluki 'Polisi Gila' oleh teman-teman seprofesinya dan warga di Kabupaten Barru. Julukan ini diberikan ke Sahabuddin karena dia suka menangani orang gila dan mengobatinya hingga sembuh agar kembali kepada keluarganya.

Sahabuddin mengaku, kebanyakan para pasien yang ditangani menderita gangguan jiwa karena tekanan ekonomi dan masalah keluarga.

Dia terdorong mengurus para penderita gangguan jiwa setelah banyak warga yang resah. Penderita gangguan jiwa itu biasanya membuat warga terganggu, bahkan ada yang ingin membacok warga menggunakan senjata tajam.

"Mengurus orang gila yang saya tekuni tidak hanya menangkap dan memenjarakannya. Saya berusaha agar mereka bisa sembuh dan kembali ke keluarga. Dari sekian banyak orang gila yang saya tangani, tidak sedikit yang berani berbuat nekat. Semua ini saya lakukan untuk menjalankan program dari Kapolda Sulsel bahwa polisi harus turun tangan membantu masyarakat, itu saja, soal predikat dan sanjungan itu urusan lain," kata mantan anggota Brimob ini setelah menerima penghargaan Kapolri dari Kapolda Sulsel, Senin (16/10/2017).

(Baca: Ibu Gendong Bayi Tiba-tiba Motornya Mogok di Jalan, Tiga Polisi Datang Lalu. . .)

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Polisi Dicky Sondani yang dikonfirmasi mengatakan, penghargaan yang diberikan berupa piagam dan dapat mengikuti sekolah perwira pada tahun 2018.

Penghargaan ini diserahkan Kapolda Sulsel, Irjen Polisi Muktiono, dalam upacara sederhana di lapangan apel Mapolda Sulsel, Senin (16/10/2017).

"Apa yang dilakukan Sahabuddin ini sangat mulia, makanya diberikan penghargaan. Jadi, Sahabuddin sudah dijamin mengikuti sekolah perwira, itu hadiah yang diperolehnya," tuturnya. (Kompas.com)

Berita ini sudah tayang di Kompas.com, Senin (16/10/2017), dengan judul: Kisah "Polisi Gila" Terima Penghargaan karena Obati Penderita Gangguan Jiwa

Editor: rika irawati
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help