OPINI
Belajar dari Kemah Peradaban Patiayam
Patiayam mempunyai nilai-nilai penting yang dapat diambil untuk sebuah pembelajaran yang terkandung dalam nilai cagar budaya yang terdapat didalamnya
Opini ini ditulis Imam Khanafi, Warga Kudus, lahir di Patiayam, aktif di Keloepas Research Center, Kudus
TRIBUNJATENG.COM - Tanggal 18-22 Oktober 2017 berlangsung Kemah Peradaban Patiayam yang diselenggarakan Balai Arkeologi Yogyakarta dengan beragam kegiatan salah satunya menggelar pameran arkeologi di halaman Museum Situs Patiayam Desa Terban, Jekulo, Kudus.
Pameran yang mengusung tema ‘Rumah Peradaban’ bertujuan menyosialisasikan hasil kajian dan temuan dari Balai Arkeologi. Selain itu untuk mengetahui kehidupan masa prasejarah yang menjadi hulu dari kehidupan masa kini.
Terlihat sejumlah fosil yang terdapat di dalam kotak kaca, replika temuan manusia purba di Goa Kidang, Blora dipamerkan. Bagi anak-anak yang berkunjung juga bisa bermain menggali dan menemukan fosil. Selain itu juga terdapat permainan menyusun puzzle hingga terbentuk gambar hewan purba.
Situs patiayam merupakan satu di antara situs plestosen yang ada di Jawa. Di situs tersebut, di Patiayam sudah ditemukan ratusan fragmen fosil hewan masa lampau. Selain pameran, juga diselenggarakan launching buku pengayaan dan media pembelajaraan tentang kepurbakalaan, kemah arkeologi yang pesertanya siswa SMA sederajat dan lomba melukis.
Belajar dari acara tersebut di atas bahwa Patiayam mempunyai nilai-nilai penting yang dapat diambil untuk sebuah pembelajaran yang terkandung dalam nilai cagar budaya yang terdapat didalamnya.
Menurut penulis, situs Patiayam sudah dapat disejajarkan dengan situs-situs yang ada di Jawa karena sudah memenuhi unsur-unsur kesejarahan. Situs-situs tersebut antara lain situs Sangiran (Sragen-Karanganyar), Sambungmacan (Sragen), Trinil, Ngandong (Ngawi), Situs Perning (Mojokerto), dan Semedo (Tegal).
Beberapa aspek dapat menunjang Patiayam menjadi sebuah situs atau cagar budaya yang berpotensi menjadi tempat pariwisata dan pembelajaran bagi kalangan pendidikan. Aspek-aspek tersebut adalah akademis, ekonomis, strategis, dan ideologis.
Situs Patiayam bernilai akademik (ilmu pengetahuan: arkeologi, teknologi, sejarah, arsitektur dan lain-lain). Hal ini sangat bernilai penting pagi seorang pemerhati, baik akademisi maupun seorang arkeolog. Hal tersebut terbukti banyak peneliti arkeologi datang meneliti situs Patiayam.
Daya Tarik Wisata
Situs itu juga bernilai ekonomis terkait dengan pengembangan pariwisata. Pengembangan situs itu sebagai objek daya tarik wisata (ODTW), khususnya wisata budaya dan wisata alam akan menguntungkan masyarakat sekitar. Masyarakat bisa membangun usaha kecil sebagai mata pencaharian dan hal itu akan meningkatkan perekonomian rakyat.
Situs itu juga mempunyai nilai ideologis terkait dengan aspek sejarah, jati diri bangsa, kebanggaan bangsa. Dalam situs itu bisa ditemukannya jejak manusia purba (homo erectus). Ditemukan pula alat-alat batu di Sungai Kancilan yang tak jauh dari tempat ditemukannya fosil-fosil purba.
Selain ditemukannya manusia purba, dalam situs itu juga ditemukan jejak fauna invertebrata dan vertebrata, berbagai fosil tulang-belulang dan gading gajah purba, rusa, badak, babi, kerbau), banteng, dan buaya.
Fosil gajah purba yang berupa akumulasi organ-organ tubuh vertebrata diidentifikasikan hanya satu individu. Fosil itu ditemukan pada lapisan formasi Slumprit sebagai lapisan Ples-tosen (500.000 sd. 1,5 juta tahun lalu) di Jawa bagian Utara.
Dalam situs itu juga terdapat temuan-temuan berupa peralatan batu. Di situ ditemukan kapak dengan bahan batuan beku basalt di Sungai Kancilan. Elemen tersebut ada dalam satu seri perlapisan tanah yang tidak terputus sejak minimal 1 juta tahun lalu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-fosil-purbakala_20171021_084856.jpg)