TribunJateng/

Liputan Khusus

Mengamen untuk Cari Dana demi Perjuangan Atlet-atlet Difabel

Prestasi Atlet difabel kategori down syndrome atau IQ di bawah 70 juga sudah mendunia

Mengamen untuk Cari Dana demi Perjuangan Atlet-atlet Difabel
tribunjateng/lipsus
Atlet-atlet difabel sedang berada di arena CFD Jalan Slamet Riyadi Solo 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Prestasi Atlet difabel kategori down syndrome atau IQ di bawah 70 juga sudah mendunia. Terakhir, kontingen Indonesia yang diwakili Special Olympic Indonesia (Soina) Jateng berhasil meraih medali perunggu pada Olimpiade Musim Dingin di Austria.

Mata Kristijani Kirana, Ketua pengda Soina Jateng, langsung memerah. Ia mengatakan para atlet spesial binaannya, meski tak pernah terekspos, selalu membanggakan. "Di tingkat Asean kalau tidak juara 1 ya juara 2, kami selalu juara," tuturnya, kepada Tribunjateng.com.

Ia berujar, perjuangannya ke Olimpiade Musim Dingin tak mudah. Bahkan, ia bersama anak didiknya sempat mengamen untuk cari dana. Kemudian, para pengurus ikut mengeluarkan dana dari kocek pribadi.

Meski begitu, ia mengaku selama ini juga selalu mendapat support dari Pemprov Jateng. Contohnya, ketika anak Gubernur Jateng ikut mendampingi anak didiknya berlaga. Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata pun sangat maksimal mendampingi mereka.

Kristin, sapaannya, merasa tidak heran para atlet difabel binaannya berprestasi. Meski punya keterbatasan intelektual, anak didiknya sangat fokus pada satu hal.

"Mereka tidak berpikir tentang uang dan sebagainya, bahkan kalau tidak punya uang untuk latihan, kami cari tempat yang gratis," ujarnya.

Meski demikian, kesadaran orangtua untuk memasukkan anaknya yang difabel ke dalam kegiatan olahraga tiap tahun menunjukkan trend positif, meski pencapaiannya dirasa belum maksimal.

Hal itu disampaikan Ketua Nasional Paralympic Commite (NPC) Jateng, Osrita Muslim, Minggu (29/10). Menurut dia, masih banyak orangtua yang menyembunyikan anaknya yang difabel karena berbagai alasan.

Ada yang merasa malu, bahkan menganggap olahraga untuk anak difabel merupakan hal yang sia-sia, atau bahkan justru merepotkan. Padahal, selain menyehatkan badan, dengan mengisi kegiatan anak difabel dengan berolahraga bisa meningkatkan rasa percaya diri anak.

NPC, sebagai wadah untuk atlet difabel Jateng siap menampung anak difabel yang ingin meraih prestasi di bidang olahraga. Orsita mengungkapkan, saat ini jumlah atlet difabel Jateng yang tercatat mencapai lebih dari 300 orang.

Jumlah itu dirasa belum maksimal karena sebenarnya masih banyak anak-anak difabel di luaran sana yang tidak berkecimpung dalam dunia olahraga. "Kalau dulu banyak yang tidak mendukung, sekarang orangtua yang mempunyai anak difabel semakin terbuka," jelasnya.

Ia berujar, sekarang sudah bukan waktunya lagi menutup akses anak. Masih banyak potensi atlet difabel di bidang olahraga yang belum masuk NPC. Mungkin karena kurang sosialisasi, dan orangtua difabel beranggapan kekurangan fisik anaknya akibat dosa orangtua dulu.

Wanita penderita penyakit Parapelegia sejak usia 10 tahun itu menuturkan, NPC Jateng menyumbang 150 atlet di PON, dan 70 atlet di Asean Para Games. Saat ini, pihaknya sedang sibuk mempersiapkan Peparpenas 2017 agar sukses penyelenggaraan sebagai tuan rumah dan sukses dalam prestasi.

"Kegiatan lain yang kami gelar antara lain Selekda, Seleknas, Peparprov, Peparpenas, Peparnas, Asean Para Games," paparnya. (tribunjateng/cetak/lipsus)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help