Menristek Ikut Pentas Wayang Orang Bersama 60 Profesor di Undip Tanpa Persiapan

Menristek Ikut Pentas Wayang Orang Bersama 60 Profesor di Undip Tanpa Persiapan di Auditorium Imam Barjo Undip, Semarang, Jumat (3/11)

Menristek Ikut Pentas Wayang Orang Bersama 60 Profesor di Undip Tanpa Persiapan
TRIBUNJATENG/CETAK/antara
Pentas wayang orang bertajuk Wayang Spektra 60 Guru Besar Undip lakon Semar Mbangun Kahyangan di Auditorium Imam Barjo Undip, Semarang, Jumat (3/11/2017) malam peringati Dies Natalis Undip ke 60. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sebanyak 60 profesor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mementaskan pagelaran wayang orang memperingati dies natalis universitas itu ke-60 bekerja sama dengan Perkumpulan Wayang Orang (WO) Ngesti Pandawa Semarang.

Pentas wayang orang bertajuk 'Wayang Spektra 60 Guru Besar Undip' yang mengangkat lakon 'Semar Mbangun Kahyangan' itu berlangsung di Auditorium Imam Barjo Undip, Semarang, Jumat (3/11) malam itu.

Para profesor dan sejumlah pejabat yang terlibat mendapatkan peran masing-masing pada pagelaran yang disutradarai Danang Respati dari Ngesti Pandawa Semarang itu.

Kesenian Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang
Kesenian Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang (tribunjateng/yayan isro roziki)

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), M Nasir sebagai Bathara Brama, Rektor Undip Prof Yos Johan Utama kebagian lakon sebagai Sang Hyang Guru.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo memerankan tokoh Sang Hyang Wenang, Sekda Jateng Sri Puryono sebagai Prabu Kresna, dan Semar diperankan Ketua Senat Undip Prof Sunarso.

Menristek Ikut Pentas Wayang Orang Bersama 60 Profesor di Undip Tanpa Persiapan di Auditorium Imam Barjo Undip, Semarang, Jumat (3/11)
Menristek Ikut Pentas Wayang Orang Bersama 60 Profesor di Undip Tanpa Persiapan di Auditorium Imam Barjo Undip, Semarang, Jumat (3/11) (tribunjateng/like adelia)

Lakon yang diangkat itu menceritakan Semar yang tidak puas dengan kepemimpinan Sang Hyang Guru karena kebijakan-kebijakannya yang dipengaruhi sang istri, Bathara Durga, sehingga Semar yang merupakan tokoh pamomong ingin membangun istana tandingan.

Dalam perjalanan cerita, Sang Hyang Guru yang tidak bijaksana dalam memimpin akhirnya ditegur Bathara Brama yang diperankan secara apik oleh para akademisi dan birokrasi itu, dibumbui dengan adegan dan dialog lucu, serta pementasan tari.

Rektor Undip Prof Yos Johan Utama menjelaskan pergelaran wayang orang itu melibatkan 60 guru besar Undip dari berbagai fakultas dan program studi di universitas itu sejalan dengan peringatan Dies Natalis Undip tahun ini ke-60.

Liputan khusus: Geliat Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang
Liputan khusus: Geliat Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang (tribunjateng/yayan isro roziki)

"Semar adalah tauladan, semacam kaca benggala bagi semua civitas akademika. Meski berperawakan pendek, bongkok, tetapi penuh kemuliaan hati," kata Guru Besar Fakultas Hukum (FH) Undip itu yang mengaku hanya dua kali latihan sebelum tampil.

Demikian pula dalam dunia akademisi, Yos menuturkan, kedalaman ilmu seseorang tidak bisa dilihat dari perawakan atau jabatan yang melekat, sehingga pementasan lakon 'Semar Mbangun Kahyangan' diharapkan bisa menjadi refleksi bagi seluruh civitas akademika.

Menristek Dikti, Nasir berujar, keterlibatannya dalam pementasan wayang orang memperingati Dies Natalis Undip itu untuk ikut mangayu bagya atau merasakan kebahagiaan, sekaligus ikut melestarikan kesenian lokal wayang orang.

"Ini (bermain wayang orang-Red) pengalaman yang kedua saya. Tanpa persiapan juga, cuma dikasih teks dan didapuk jadi Bathara Brama. Bathara Brama itu menggambarkan penguasa geni` (api-Red)," kata Guru Besar Fakultas Ekonomi Undip itu.

Mantan Rektor Undip itu mengapresiasi Dies Natalis Undip kali ini yang menampilkan kesenian wayang orang, sebab bagaimanapun budaya berkaitan dengan sejarah yang tidak boleh dilupakan, meski Undip punya impian untuk terus maju ke depan.

Berkaitan dengan lakon 'Semar Mbangun Kahyangan', Nasir menyatakan, bisa dipetik pelajaran bahwa membangun kahyangan itu tidak gampang dan tidak bisa dilakukan sendirian, melainkan membutuhkan kerja sama seluruh pihak, termasuk masyarakat.

Pementasan wayang orang yang digelar Undip itu juga mencetak rekor dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) sebagai pemrakarsa pementasan wayang orang dengan pemainnya guru besar terbanyak, yakni sebanyak 60 orang profesor, dan mencatat prestasi pada urutan ke-321. (tribunjateng/cetak/Antara/din)

Penulis: dina indriani
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved