TribunJateng/

Baru Pertama Memasak Pakai Gas Bumi, Pedagang Ini Ingin Jadi Pelanggan PGN. Ini Alasannya

"Beda jauh. Hasil memasak (menggunakan gas bumi) lebih cepat matang dan apinya biru sehingga tidak merusak perabot," kata Arif.

Baru Pertama Memasak Pakai Gas Bumi, Pedagang Ini Ingin Jadi Pelanggan PGN. Ini Alasannya
TRIBUN JATENG/M ZAENAL ARIFIN
Para pengunjung di Festival Kuliner Sam Poo Kong, Sabtu (11/11/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tiga puluh pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) kuliner di Kota Semarang meramaikan festival kuliner yang digelar Tribun Jateng bersama Perusahaan Gas Negara (PGN).

Dalam pelaksanaan festival, seluruh tenant kuliner mendapat alokasi gas dari PGN yang dialirkan menggunakan pipa kecil. Jaringan tersebut langsung terhubung ke kompor masing-masing stand.

Pemilik stand nasi gandul Bu Semi, Arif Budi Prasetyo, mengatakan, dia merasakan perbedaan memasak menggunakan elpiji dan gas bumi.

"Beda jauh. Hasil memasak (menggunakan gas bumi) lebih cepat matang dan apinya biru sehingga tidak merusak perabot. Kalau pakai gas elpiji, matangnya lebih lama dan apinya merah," kata Arif, Sabtu (11/11/2017).

(Baca: PGN Pastikan Gas Alam Aman Dipakai Masyarakat)

Penjual nasi gandul yang biasa berjualan di Jalan Hasanuddin, Kota Semarang, itu mengungkapkan, biasanya, dia memasak menggunakan gas elpiji ukuran 3 kg. Gas tersebut dibeli Rp 17 ribu per tabung yang hanya bertahan untuk dua hari.

Jika ditotal, Arif menghabiskan 15 tabung gas melon per bulan. Dia pun semakin susah lantaran elpiji bersubsidi itu makin susah ditemukan. Sementara, jika beralih ke elpiji ukuran 5 Kg, harganya dirasa mahal.

"Otomatis, saya sebagai pedagang kecil, merasa hal itu memberatkan. Apalagi, di awal, harus keluar uang sampai Rp 1 juta untuk beli tabung, konverter, dan lainnya," ucapnya.

Untuk itu, ia berencana beralih menggunakan gas bumi dari PGN. Alasannya, harga gas bumi lebih murah sehingga lebih efisien.

"Ingin sekali beralih pakai gas PGN. Tapi, saya berharap, PGN menjamin stok di pasaran ada. Sehingga, kalau gasnya habis, saya mudah menemukan di pasaran," harapnya.

(Baca: Ini Tanggapan Pelaku UMKM Setelah Menggunakan Gas PGN)

Sales Area Head PGN Semarang, Heri Frastiono mengatakan, dilihat dari pemakaian jaringan pipa gas yang sudah beroperasi, penggunaan gas untuk rumah tangga dan komersial jauh lebih hemat dibanding elpiji.

Ia mencontohkan, untuk pemakaian elpiji 12 kg per bulan, bila dikonversikan menggunakan gas bumi, setara 15 meter kubik per bulan. Yang mana, harga gas bumi di jaringan pipa gas existing di Semarang saat ini, untuk kategori RT-1 adalah Rp 3.333 per meter kubik dan RT-2 Rp 4.000 per meter kubik.

"Dari sisi biaya, konsumen harus mengeluarkan biaya sampai Rp 150 ribu per tabung untuk 12 kg elpiji. Sedangkan penggunaan gas bumi, konsumen hanya membayar Rp 49.995," katanya. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: rika irawati
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help