TribunJateng/

Nursholeh Ingin Menteri Susi Pudjiastuti Dialog dengan Nelayan Terkait Cantrang

Plt. Wali Kota Tegal, Nursholeh menginginkan Susi Pudjiastuti dapat membuka jalur dialog dengan para nelayan terkait larangan cantrang

Nursholeh Ingin Menteri Susi Pudjiastuti Dialog dengan Nelayan Terkait Cantrang
ISTIMEWA
Plt Wali Kota Tegal, Nursholeh dan Menteri KKP Susi Pudjiastuti, Senin (13/11/2017) malam 

TRIBUNJATENG.COM, TEGAL- Plt. Wali Kota Tegal, Nursholeh menginginkan kehadiran Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti di Kota Tegal dapat membuka jalur dialog dengan para nelayan terkait larangan penggunaan cantrang sesuai yang tercantum dalam Peraturan Menteri Keluatan dan Perikanan No.2 Tahun 2015.

Hal itu diungkapkan Kang Nursholeh, demikian sapaan akrab Nursholeh, saat membuka Pentas Wayang Kulit Ki Enthus Susmono yang dihadiri Menteri KKP dan Dirjen Perikanan Tangkap Sjarief Widjaja dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Yusuf Solichien di Area Jalingkut Kota Tegal, Senin (13/11/2017) malam.

Nursholeh berharap Susi menjelaskan pelarangan penggunaan alat tangkap trawl dan seine net, yang di dalamnya termasuk cantrang.

“Kedatangan ibu menteri ini seperti membuka peluang dibangunnya dialog dengan para nelayan, mengingat secara data produksi perikanan tangkap Kota Tegal saat ini masih menempati ranking tertinggi se-Jawa Tengah yakni mencapai 25 juta ton, dengan nilai produksi mencapai 273 miliar," ucapnya dalam rilis yang diterima Tribunjateng.com, Selasa (14/11/2017).

Sementara itu dihadapan ratusan nelayan Kota Tegal, Susi mengatakan bahwa dirinya masih prihatin dengan nelayan pantura (pantai utara) termasuk Kota Tegal yang sampai sekarang meributkan soal larangan cantrang.

Padahal menurutnya laut Indonesia sekarang ini sudah mulai pulih, bahkan di beberapa daerah nelayan bahkan mampu mendapatkan berton ton ikan dalan sekali tarik karena sudah tidak ada lagi illegal fishing serta mulai beralihnya nelayan memakai alat tangkap yang ramah lingkungan.   

“Saya hanya melarang untuk  alat tangkap yang tidak sesuai aturan saja, ini supaya para nelayan tidak dapat hanya dapat ikan yang murah saja, karena daerah lain sudah banyak nelayan yang mendapatkan ikan yang harganya lebih mahal," ujarnya.

“Tangkaplah yang besar yang untungnya besar”, jangan tangkap yang kecil yang harganya murah”, tegasnya.  “Ini bukan pelaranngan namun pengaturan, ini untuk kesejahteraan semua nelayan. Sekarang saat nya beralih, demi kesejahteraan tolong berfikir panjang jangan mudah terprovokasi, saya mohon kesadaran bapak ibu nelayan sendiri," imbuhnya.

Selain itu Susi juga meminta Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sudah seharusnya “hidup” seperti dahulu.

Susi meminta semua kapal harus menjual ikan di TPI.

Halaman
12
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help