TribunJateng/

Teka-teki Kenapa Namanya Gethuk Kethek Oleh-oleh Khas Salatiga Terjawab (Video)

Nama aslinya adalah Gethuk Satu Rasa, dan ada gambar monyet yang terpampang di kotak pembungkusnya.

Teka-teki Kenapa Namanya Gethuk Kethek Oleh-oleh Khas Salatiga Terjawab (Video)
tribunjateng/ponco wiyono
Selama ini orang sudah mengenal nama Gethuk Kethek. Namun banyak yang belum tahu kenapa gethuk oleh-oleh khas Salatiga itu dinamakan Gethuk Kethek. 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Selama ini orang sudah mengenal nama Gethuk Kethek. Namun banyak yang belum tahu kenapa gethuk oleh-oleh khas Salatiga itu dinamakan Gethuk Kethek. Apakah kuliner ini ada kaitannya dengan primata yang tinggal bergelantungan di pepohonan itu.

Nama aslinya adalah Gethuk Satu Rasa, dan ada gambar monyet yang terpampang di kotak pembungkusnya.

Gambar monyet itu tak lain adalah foto dari monyet peliharaan si pemilik.

Itulah gethuk kethek khas Kota Salatiga.

Selama ini orang sudah mengenal nama Gethuk Kethek. Namun banyak yang belum tahu kenapa gethuk oleh-oleh khas Salatiga itu dinamakan Gethuk Kethek.
Selama ini orang sudah mengenal nama Gethuk Kethek. Namun banyak yang belum tahu kenapa gethuk oleh-oleh khas Salatiga itu dinamakan Gethuk Kethek. (tribunjateng/ponco wiyono)

"Sejak dulu kami memproduksi getuk dengan cara dan rasa yang sama. Bedanya sekarang memarut singkongnya pakai mesin," kata Santoso (46) putra Suwarni (80) generasi pertama sekaligus pendiri produk oleh-oleh unggulan Salatiga itu.

Tribunjateng.com mengunjungi tempat produksi Gethuk Kethek di Kota Salatiga.

Tampak orang sedang mencetak gethuk yang dibentuk dalam balok-balok kecil siap dipindahkan ke dalam kotak pembungkus, masing-masing berisi 20 potong getuk.

Dua orang yang bertugas melakukan itu adalah Santoso (46) dan Giyarto (41), kakak beradik putra dari Suwarni (80).

Sambil terus sibuk mencetak dan menata getuk ke dalam kotak-kotak pembungkus, Santoso melayani pertanyaan Tribunjateng. Gethuk ini menggunakan bahan dasar singkong atau ketela pohon.

Industri rumahan milik Santoso ini rata-rata menghabiskan 100 kilogram singkong dalam sehari.

Menurut Giyarto, meski Salatiga merupakan sentra olahan singkong namun sesekali ia kesulitan mendapatkan singkong dengan mutu yang baik.

"Di musim hujan seperti sekarang misalnya, kami kadang-kadang harus menunggu sngkong yang bagus. Namun itu tak begitu masalah sebenarnya karena yang penting singkongnya bisa dimasak sampai matang," ujarnya.

Masih bertahan dengan satu rasa saja, Santoso mengaku ia dan keluarga belum terpikir untuk melakukan inovasi lain, termasuk membuat getuk buatannya lebih tahan lama.

Para pelanggan selama ini mengetahui, jika kudapan berbahan singkong, kelapa, dan gula itu hanya tahan maksimal satu hari.

Kendati demikian, Getuk Sari Rasa tetap menjadi pilihan utama para pengunjung Kota Salatiga di
Jalan Argo Tunggal. (tribunjateng/ponco wiyono)

Penulis: ponco wiyono
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help