TribunJateng/

Ngopi Pagi

Difteri dan Imunisasi

Tercata ada 95 kabupaten dan kota di Indonesia dilaporkan terjadi kejadian luar biasa (KLB) difteri.

Difteri dan Imunisasi
tribunjateng/ist
DPT adalah singkatan dari difteri, pertusis, dan tetanus. Imunisasi DPT adalah salah satu jenis bentuk vaksinasi yang wajib diberikan kepada balita. Tiga penyakit itu memiliki risiko tinggi dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Oleh karena itu, pemberian imunisasi DPT sebaiknya tidak dilewatkan. 

TRIBUNJATENG.COM - Tercata ada 95 kabupaten dan kota di Indonesia dilaporkan terjadi kejadian luar biasa (KLB) difteri. Nama penyakit yang tidak begitu terkenal tiba-tiba menyeruak menakutkan.

Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan kuman Corynebacterium diphtheriae. Kasus infeksi ini mudah menular dan berbahaya, karena dapat menyebabkan kematian.

Akibat penyakit difteri sudah ada 32 orang meninggal dunia, data seluruh Indonesia. Jawa Tengah menjadi satu dari beberapa provinsi yang menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) terhadap penyakit difteri. Tahun ini di Jateng tercatat ada dua balita terinfeksi difteri dan dinyatakan sudah sembuh setelah menjalani pengobatan. Itu artinya program imunisasi di Jawa Tengah berhasil.

Ingat, dulu semasa kita kecil atau anak-anak sebelum usia 7 tahun tentu sudah diberikan imunisasi DPT. Yaitu pemberian (penyuntikan) vaksin kepada anak yang berumur kurang dari 7 tahun, di bagia otot lengan atau paha. Imunisasi DPT ini mencakup vaksin kekebalan tubuh terhadap penyakit difteri, pertusis, dan tetanus.

Imunisasi sebanyak tiga kali yaitu saat usia anak 2 bulan (DPT I), anak usia 3 bulan (DPT II) dan usia anak 4 bulan (DPT III), berselang empat minggu. Sekali lagi diberikan pada anak usia 5-6 tahun. Vaksin ini berfungsi melindungi tubuh selama 10 tahun. Maka saat usia remaja 14-16 tahun diberikan vaksin lagi.

Berdasar penelitian, 85 persen anak yang mendapat suntikan vaksin DPT tidak mengalami infeksi difteri. Pemberian vaksin dilaksanakan saat anak sehat. Dan jika setelah disuntik vaksin anak mengalami demam atau bengkak di lokasi suntikan itu hal biasa. Tercatat 66 persen kasus difteri disebabkan karena tidak diimunisasi.

Sekitar 31 persen imunisasi tidak lengkap. Dan hanya 3 persen anak imunisasi lengkap namun tetap tertular difteri.

Belajar dari pengalaman ini, sebaiknya masyarakat tidak menolak program imunisasi itu, demi kesehatan dan kekebalan tubuh anak, yang merupakan aset bangsa, penerus perjuangan Indonesia. Jika 95 persen penduduk mentaati imunisasi maka penyakit difteri bisa dihilangkan karena sudah terjadi kekebalan kelompok sehingga bakteri tidak bisa menginfeksi orang lain. Jawa Tengah sudah "sukses" melaksanakan imunisasi DPT.

Tiap desa atau RT ada kelompok PKK, Posyandu, dan sebagainya yang menggiatkan imunisasi rutin tiap bulan, dan diumumkan di masjid atau tempat ibadah menggunakan pengeras suara. Kegiatan begini kelihatannya biasa dan ringan saja namun hasilnya luar biasa. Anak-anak akan kebal terhadap penyakit, yang telah diimunisasi, termasuk difteri, pertusis, dan tetanus.

Penyebaran difteri malalui kontak langsung dengan penderita difteri dan berdekatan. Bila infeksi tidak diobati, toksin yang dihasilkan oleh bakteri bisa menyebabkan lumpuh dan gagal jantung.

Gejala difteri akan nampak pada 2-5 hari setelah terinfeksi bakterinya. Gejalanya antara lain demam dan mengigil, terjadi pembesaran kelenjar di leher, radang tenggorokan, kulit membiru, berliur terus menerus dan tubuh terasa tak nyaman. Coba buka mulut dan lihat apakah ada lapisan warna abu-abu di tenggorokan dan tonsil (amandel). Jika ada warna lapisan abu-abu itu silakan cepat bawa ke dokter. (*)

Penulis: iswidodo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help