TribunJateng/

Jalan-Jalan ke Pekalongan Jangan Lupa Rasakan Getuk Bokong

Tepatnya di Desa Wonosari, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang yang masih memproduksi kuliner tersebut, Kamis (7/12/2017).

Jalan-Jalan ke Pekalongan Jangan Lupa Rasakan Getuk Bokong
TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO
Sunaryo warga Desa Wonosari Kecamatan Bawang Kabupaten Batang sedang membuat getuk bokong, Kamis (7/12/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Apa yang ada di benak anda saat mendengar getuk bokong?

Ets jangan beranggapan jorok dulu, karena getuk bokong yang dalam bahasa Indonesia berarti getuk pantat ini merupakan makanan tradisional khas dari lerang gunung Prahu.

Tepatnya di Desa Wonosari, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang yang masih memproduksi kuliner tersebut, Kamis (7/12/2017).

Makanan dengan bahan dasar singkong dan gula aren tersebut dapat anda beli dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 12.000.

Baca: Dirresnarkoba Polda Jateng Ungkapkan Pil PCC yang Dibuat Bisa Beredar di Kalimantan

Adapun suami istri Sunaryo (51) dan Ponirah (41) satu-satunya yang masih membuat getuk bokong.

Diterangakan Sunaryo, dinamakan gethuk bokong karena bentuknya menyerupai bokong atau pantat.

"Banyak orang yang menyebut getuk bokong, karena bentuknya yang menyerupai bokong," ujarnya.

Dengan lebar sekitar 23 centimeter dan ketebalan 3 centimeter, kuliner khas Desa Wonosari tersebut dijual oleh sang pembuat hingga Dieng dan Kabupaten Banjarnegara.

"Kami biasa jual ke pasar Bawang dan pasar Dieng hingga Kabupaten Banjarnegara dan Alhamdulillah laris manis habis terjual," imbuhnya.

Baca: Wawali Kota Solo: Masjid Taman Sriwedari akan Bergaya Jawa Klasik dan Ini Sejumlah Ornamennya

Pria 51 tahun tersebut juga menjelaskan proses pembuatan getuk bolong cukup memakan waktu, pasalnya singkong harus dikupas dan dicuci hingga bersih lalu diparut, setelah itu airnya dibuang dengan cara diperas sampai benar-benar kadar airnya berkurang.

"Setelah kering lalu rebus selama lima belas menit, saat direbus adonanya diberi garam secukupnya dan gula aren, tapi ada yang hanya di campur garam, dan setelah itu ditumbuk agar tidak menggumpal, yang terakhir dicetak menggunakan baskom," pungkasnya.(*)

Penulis: budi susanto
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help