TribunJateng/

PENTING! Perlu Anda Ketahui Apa Itu penyakit Difteri

Menurut Yulianto, para penderita difteri itu dikarenakan dahulu mereka tidak diimunisasi, sehingga terjangkit virus penyakit tersebut.

PENTING! Perlu Anda Ketahui Apa Itu penyakit Difteri
SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Petugas medis dari Dinas Kesehatan Kota Malang menyiapkan vaksin Tetanus-Diphtheria Toxoid (Td) untuk diberikan pada siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Ahmad Yani, Jalan Kahuripan, Kota Malang, Senin (22/8/2016). Pemberian vaksin pada siswa ini untuk mecegah penularan penyakit Difteri yang telah menjangkiti enam siswa dan satu guru di sekolah tersebut. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dua balita di Jawa Tengah ditemukan positif difteri. Seorang balita di Semarang pada September lalu, dan seorang balita di Karanganyar pada Oktober 2017 lalu. Keduanya telah dirawat di rumah sakit dan sembuh.

"Keduanya sudah pulang dari perawatan di RSU dalam keadaan sembuh, dan sampai saat ini belum ada kasus lagi," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, dr Yulianto Prabowo, Rabu (6/12).

Ia mengungkapkan, awalnya terdapat 11 penderita penyakit sejenis, namun setelah diperiksa ternyata hanya dua orang, selebihnya bukan difteri.

Menurut Yulianto, para penderita difteri itu dikarenakan dahulu mereka tidak diimunisasi, sehingga terjangkit virus penyakit tersebut.

Yulianto juga menyebutkan bahwa untuk di Jawa Barat dan di Jawa Timur, memang terjadi ratusan kasus. Ia menilai, hal itu disebabkan rendahnya cakupan immunisasi di daerah tersebut.

"Daerah lain tinggi-tinggi, Jateng rendah karena cakupan imunisasi kita tinggi, memang sedikit yang tidak mau diimunisasi tapi kebanyakan menerima," ujarnya.

Ia mengimbau pada masyarakat untuk ikut mendukung program imunisasi sehingga anak-anak mendapatkan perlindungan dari serangan virus berbahaya.

"Ini harus didukung semua masyarakat, stakeholder, semua pemangku kepentingan berperan serta untuk penanggulangan penyakit Difteri dengan mendorong semua balita mendapatkan imunisasi, karena penyakit ini akan diberantas dengan cara ini," katanya.

Meski hanya ditemukan dua kasus di Jateng, lanjutnya, Dinkes Jateng telah menindaklanjutinya dengan berupaya meningkatkan dan pemerataan imunisasi rutin. Khususnya imunisasi DPT-HB-Hb minimal 95 persen, setiap Level juga minimalkan 98 persen cakupan imunisasi bisa di kelas 1,2 dan 3.

"Harapan kami kalau bisa 100 persen anak di Jateng diimunisasi. Sebab pemerintah kan menyediakan vaksin imunisasi itu sangat cukup, cuma ada orangtua yang tidak menerima. Harapan kita yang tidak menerima itu makin sedikit kalau bisa nol persen," katanya.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help