PENTING! Perlu Anda Ketahui Apa Itu penyakit Difteri

Menurut Yulianto, para penderita difteri itu dikarenakan dahulu mereka tidak diimunisasi, sehingga terjangkit virus penyakit tersebut.

PENTING! Perlu Anda Ketahui Apa Itu penyakit Difteri
SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Petugas medis dari Dinas Kesehatan Kota Malang menyiapkan vaksin Tetanus-Diphtheria Toxoid (Td) untuk diberikan pada siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Ahmad Yani, Jalan Kahuripan, Kota Malang, Senin (22/8/2016). Pemberian vaksin pada siswa ini untuk mecegah penularan penyakit Difteri yang telah menjangkiti enam siswa dan satu guru di sekolah tersebut. 

“Pencegahannya yakni melalui vaksin DTaP dan obat biasanya adalah antibiotik serta antibiotic penisilin. Secara umum hal tersebut dilakukan guna menetralkan toksin difteri yang ada di dalam tubuh penderita,” ucap Widoyono.

Terpisah, dalam keterangan tertulis yang disampaikan Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi dan Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Anggraini Alam, ada dua klasifikasi pada kasus difteri itu yakni kasus probable (tersangka) difteri dan konfirmasi.

“Kasus probabe merupakan kasus yang ditandai dan bergejala gangguan saluran napas adanya pseudomembran pada hidung, faring, tonsil atau laring. Sedangkan kasus konfirmasi apabila terdapat tanda serta gejala gangguan saluran napas atas hasil kultur swab tenggorok dan epidemiologi,” terangnya.

Menurutnya, sesuai Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI Nomor 1501/ MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu, apabila ditemukan satu kasus difteri klinis, dapat dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan seyogyanya segera diumumkan secara resmi oleh pemerintah setempat.

“Munculnya kasus difteri di sejumlah wilayah menunjukkan masih rendahnya imunitas. Yang penyebabnya bisa diakibatkan karena belum mendapat imunisasi atau imunogenisitas setelah pemberian imunisasi tidak mencapai kadar proteksi,” paparnya.

Untuk itu, lanjutnya, perlu dilakukan imunisasi pada seluruh anak prasekolah yaitu dengan mendapatkan 4 dosis DTP, anak sekolah mendapatkan Td pada saat awal dan akhir sekolah, serta diharapkan pula orang dewasa mendapatkan booster Td tiap 10 tahun.

“IDAI akan membantu untuk bersama-sama mempersiapkan outbreak response immunization (ORI) termasuk pula mempersiapkan akan kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang mungkin dapat terjadi dan memengaruhi target cakupan di tiap daerah tersebut,” tutupnya. (had/dse)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved