Ngopi Pagi

Yerusalem

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah melempar provokasi. Figur kontroversial itu mengumumkan kebijakan pemerintahannya

Yerusalem
Reuters
Presiden AS Donald Trump memegang proklamasi yang ia tandatangani, yang menyatakan Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, setelah selesai menyampaikan pidato di Gedung Putih di Washington, 6 Desember 2017. AS juga bakal memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem. 

TRIBUNJATENG.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah melempar provokasi. Figur kontroversial itu mengumumkan kebijakan pemerintahannya yang mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel, Rabu (6/8). Dia juga akan memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Pengakuan sepihak oleh AS tersebut telah melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB, lembaga tempat AS menjadi anggota tetapnya. Tentu saja, pernyataan Trump ini berpotensi mengguncang stabilitas keamanan, bukan hanya di kawasan Timur Tengah, melainkan juga keamanan dunia.

Pernyataan ini sekaligus meragukan peran AS sebagai penengah proses perdamaian, yang selama ini ditunjukkan dalam konflik Israel-Palestina. Dengan pengakuan Yerusalem sebagai Ibukota Israel, maka hal itu dipastikan akan mendorong Israel untuk melanjutkan kebijakan pendudukan, permukiman, dan pembersihan etnik Palestina.

Seperti halnya yang dirisaukan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, kependudukan Israel terhadap Yerusalem secara efektif akan menempatkan seluruh kota di bawah kendali Israel secara de facto.

Merunut sejarah, status Yerusalem ini telah memicu ketegangan antara Israel dengan Palestina selama beberapa dekade. Israel menduduki Yerusalem Timur pada akhir perang 1967 melawan Suriah, Mesir dan Yordania. Sementara, bagian barat kota suci tersebut telah dicaplok dalam perang Arab-Israel 1948.

Selepas pernyataan Trump itu, gelombang protes pun meruak di berbagai belahan dunia, termasuk kota-kota di Indonesia . Gejolak menentang sikap AS ini bukan lagi hanya terbatas di Palestina.

Yerusalem ini memiliki keistimewaan. Tiga agama samawi, Yahudi, Kristen, dan Islam memiliki situs suci di tempat ini. Karenanya ada kedekatan psikologis antara Yerusalem dengan Indonesia, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Di kota ini, terdapat Masjidil Aqsa, kiblat pertama umat Islam dan Kubah Batu, titik nabi Muhammad saw melakukan mikraj.

Posisi Indonesia sebagai negara yang mendukung kemerdekaan Palestina, sebagaimana yang diamanatkan UUD 1945, maka sudah tepat menyuarakan sikap tegasnya atas pembelaan terhadap perjuangan rakyat Palestina

Sidang Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Istanbul, Turki, 13 Desember 2017, yang akan diikuti Presiden Joko Widodo diharapkan bisa memberikan sikap yang tepat atas pengakuan sepihak AS. Begitu pula desakan terhadap PBB, yang harus bisa menghentikan arogansi AS demi terciptanya dunia maupun kemerdekaan yang nyata bagi Palestina. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help