Ngopi Pagi

Manuver Setya Novanto

Pengunduran diri Setya Novanto sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) disetujui oleh rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPR, Senin (11/12) kemarin.

Manuver Setya Novanto
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
RUSTAM AJI wartawan Tribun Jateng 

TRIBUNJATENG.COM - Pengunduran diri Setya Novanto sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) disetujui oleh rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPR, Senin (11/12) kemarin.

Publik tentu menyambut baik pengunduran diri Setya Novanto itu di tengah kasus e-KTP yang menjerat. Meski kini jabatannya sebagai Ketua DPR telah lepas, Setya Novanto seolah telah melempar “bola panas” ke partainya, Golkar.

Ya, meskipun terlihat ikhlas melepas jabatannya sebagai Ketua DPR RI, Setya Novanto, sejati tak tulus betul melepas jabatannya tersebut. Tak lain, karena dalam pengunduran dirinya, ia juga mengajukan calon penggantinya sebagai ketua DPR, yakni Aziz Syamsuddin.

Tak pelak ini membuat suasana di partai pohon beringin memanas. Padahal, Setya Novanto sebelumnya juga telah mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Partai Golkar.

Ketidaktulusan Setya Novanto melepas jabatannya baik di Golkar maupun DPR, tampak jelas dengan penunjukan Aziz Syamsuddin sebagai penggantinya di DPR maupun mendudukkan Aziz Syamsuddin sebagai salah satu Plt Sekjen Golkar. Berdasar rumor bahwa Aziz Syamsuddin merupakan orang yang (masih) setia terhadap Setya Novanto.

Namun, keinginan Setya Novanto mendudukkan Aziz Syamsuddin sebagai Ketua DPR tak berjalan mulus. Karena rapat Bamus DPR belum mencapai titik temu dalam hal terebut alias belum menyepakati.

Apalagi, di internal Golkar sendiri juga terjadi penolakan terhadap penunjukan Aziz Syamsuddin. Di sisi lain, hal itu juga pasti akan mendapat perlawanan dari para “loyalis” Setya Novanto.

Bak buah simalakama, kondisi internal Golkar jadi serba salah dan akhirnya terbelah, antara yang mendukung keputusan Setya Novanto dan menolaknya. Hal itu terlihat dari penggalangan penolakan terhadap Aziz Syamsuddin diangkat sebagai Ketua DPR. Akankah hal ini berakhir dengan perpecahan Golkar pasca ditinggal Setya Novanto?

Bukan kali ini saja Golkar menghadapi gonjang-ganjing politik di tubuhnya, melainkan sudah berkali-kali. Dan, Golkar selalu mampu “lepas” dari kemelut, meski benih-benih perseteruan antarkader sejatinya masih terpendam dalam hati. Karena itulah, efek dari penyelesaian konflik internal yang tak tuntas menjadikan Golkar tak pernah berhenti “bergejolak”.

Pertanyaannya sekarang, akankah manuver suksesi Ketua DPR yang dilemparkan Setya Novanto akan berujung memporak-porandakan Golkar? Konsekuensi manuver Setya Novanto ini jelas harus dibayar mahal oleh Golkar. Selain harus menghadapi gejolak di internal, Golkar juga harus menanggung terpecahnya konsentrasi menghadapi Pilkada serentak 2018 maupun Pilpres 2019.

Konsekuensi kedua tentu akan sangat merugikan Golkar sebagai partai besar karena dapat dipastikan akan terpecahnya konsentrasi mempersiapkan calon Presiden. Dan itu jelas merupakan kerugian besar, karena akan menjadikan kesolidan partai berkurang.

Meski pada sisi lain, ada juga pengamat yang menilai bahwa itu merupakan keuntungan bagi Golkar sebab mampu bermain di “dua kaki”. Tapi, alasan ini sejatinya adalah merupakan ketidakmampuan Golkar dalam menjaga kekompakan dan menyatukan kepentingan di internalnya. (*)

Penulis: rustam aji
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help