TribunJateng/

Ngopi Pagi

Sandiwara Apa Lagi?

Tersangka Kasus mega korupsi KTP elektronik Setya Novanto akhirnya resmi menyandang satus terdakwa.

Sandiwara Apa Lagi?
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Setya Novanto menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor, 

TRIBUNJATENG.COM - Tersangka Kasus mega korupsi KTP elektronik Setya Novanto akhirnya resmi menyandang satus terdakwa. Proses menyeret orang berpengaruh di Partai Golkar dan DPR ini cukup rumit. Ia selalu memainkan sandiwara untuk bisa lolos dari jerat hukum.

Dalam sidang perdana kemarin, Novanto lagi-lagi menerapkan strategi sakit untuk mengulur sidang. Taktik ini ia gunakan berkaitan dengan sidang praperadilan yang digelar di hari bersamaan, dan hari ini, jadwal sidang praperadilan akan menjatuhkan vonis diterima atau ditolaknya permohonan pemohon.

Jika sidang pokok perkara ditunda, hakim praperadilan ada kemungkinan melanjutkan sidang untuk menjatuhkan vonis. Namun jika sampai pada pembacaan dakwaan, maka gugurlah permohonan praperadilan, karena status Setya Novanto bukan lagi tersangka, tapi sudah jadi terdakwa.

Novanto datang ke ruang sidang dengan kondisi loyo. Begitu sidang dibuka, ia bungkam tak mau menjawab pertanyaan ketua majelis hakim.

Wajahnya terus menunduk dan akhirnya mengaku sakit. Jaksa KPK meyakinkan majelis hakim bahwa Novanto sudah diperiksa oleh tim dokter IDI dan dinyatakan sehat untuk bisa mengikuti jalannya sidang.

Hakim rupanya hendak berlaku adil dan mendengar keinginan pengacara Novanto untuk kembali diperiksa dokter. Kesempatan pun diberikan dengan menskors sidang. Namun kesempatan itu pun tidak digunakan dengam baik.

Dokter dari RSPAD ditolak novanto dengan alasan dokter umum. Ketika pengacara minta lagi kesempatan, hakim menolak. Sidang pun dilanjut dengan mendengar keterangan empat dokter yang sempat memeriksa Novanto sebelum mengikuti sidang. Empat dokter itu kompak menyebutkan Novanto sehat.

Upaya Novanto dengan membisu dan selalu mengaku sakit padahal fakta medisnya sehat membuat publik makin menertawakannya. Rupanya di negara ini ada pejabat publik yang nekat memainkan proses hukum seperti itu.

Tak berlebihan jika publik menganggap, mungkin inilah alasannya mengapa Otto Hasibuan mundur sebagai pembela Novanto.

Bagi Otto dan publik yang menghormati penegakan hukum, kasus hukum harus dihadapi dan dilawan dengan hukum lagi, bukan dengan politik apalagi dengan cara bersandiwara.

Andaikan saja cara sandiwara itu pun berhasil, maka kemenangan itu bukan karena faktor hukum, dan itu secara hukum artinya belum final.

Demi kehormatan nama baik, demi harga diri pribadi dan keluarga, demi integritas, dan demi kehormatan institusi partai dan DPR, seharusnya Novanto dan tim pengacara berani menghadapi proses hukum dengan tidak mempersulit diri, mempersiapkan diri dengan langkah-langkah hukum untuk melawan dakwaan jaksa KPK.

Hanya dengan cara ini, meskipun misalnya kalah di pengadilan, tapi tidak kehilangan kehormatan diri.
Sayangnya, nasi sudah jadi bubur, Novanto sudah kehilangan segalanya dan akhirnya tetap berhasil diseret ke kursi pesakitan. Lalu, mau sandiwara apalagi yang mau dimainkan? Dan ingat, tidak semua orang bisa dibeli dengan uang, tidak semua orang bisa diajak bersandiwara.(*)

Penulis: cecep burdansyah
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help