Ngopi Pagi

Pendadaran Mahesa Jenar

ARKIAN, di tengah gua Karang Tumaritis yang bercabang-cabang, Mahesa Jenar dan Ki Kebo Kanigara tenggelam dalam percakapan yang menghanyutkan.

Pendadaran Mahesa Jenar
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Mahesa Jenar memastikan tiket merumput ke Liga 1 setelah mati-matian tundukkan Martapura FC, Selasa (28/11) dengan skor akhir 6-4. 

TRIBUNJATENG.COM - ARKIAN, di tengah gua Karang Tumaritis yang bercabang-cabang, Mahesa Jenar dan Ki Kebo Kanigara tenggelam dalam percakapan yang menghanyutkan. Lampu obor yang menyala-nyala lincah, melemparkan sinarnya yang seolah-olah menari di dinding gua itu.

Pada kesempatan itu, Ki Kebo Kanigara, putra sulung Ki Ageng Pengging Sepuh--guru Mahesa Jenar--itu memberikan wejangan kepada sang prajurit pilihan Kasultanan Demak untuk segera "turun gunung", menuntaskan tugasnya. Ki Kebo Kanigara menganggap, Mahesa Jenar telah tuntas menguasai ilmu Perguruan Pengging.

"Mahesa Jenar, sekarang sudah sampai waktumu untuk meninggalkan ruang samadimu ini. Biarlah patung batu itu tinggal sendiri, menjadi saksi bisu atas apa yang pernah terjadi di sini."

Mahesa Jenar mengangguk satu kali. Kemudian perlahan-lahan ia berdiri dan memandang patung batu itu dengan tajamnya. Kebo Kanigara pun kemudian berdiri.

"Marilah…," katanya.

"Ikutilah aku. Sekarang kau tak usah marah lagi. Aku akan membawa obor ini, supaya kau tak kehilangan jalan."

Begitulah, dialog Mahesa Jenar dan Ki Kebo Kanigara, seperti tertuang dalam kisah Nagasasra dan Sabuk Inten karya mendiang SH Mintardja. Cerita yang populer pada 1960 itu mengisahkan tentang Mahesa Jenar, ksatria asal Kadipaten Pandan Arang (kini Kota Semarang), yang berupaya mencari pusaka Kasultanan Demak, yakni keris Nagasasra dan Sabukinten.

Di gua itu, Ki Kebo Kanigara menggembleng Mahesa Jenar. Atas gemblengan Ki Kebo Kanigara pula, prajurit yang berjuluk Rangga Tohjaya itu menjadi jauh lebih sakti ketimbang sebelumnya. Mahesa Jenar bisa menguasai ajian Sasra Birawa, ajian andalan Perguruan Pengging, secara paripurna. Pukulan Sasra Birawa itu bisa menghancurkan sebongkah batu besar atau meremukkan tulang belulang. Dengan ajian itu, Mahesa Jenar bisa menaklukkan musuh-musuhnya, Bahureksa, Gagak Ijo, atau bahkan Lawa Ijo dan Sima Rodra.

"Kok tiba-tiba bicara soal Nagasasra dan Sabuk Inten, jan-jane ana apa ta, Kang?" celetuk Dawir, membuyarkan lamunan saya.

Sore ini, Senin Pahing, 18 Desember 2017, skuat PSIS Semarang memulai latihan perdana untuk menghadapi musim kompetisi 2018. Mahesa Jenar, demikian julukan "resmi" PSIS, bakal menggembleng diri untuk menghadapi musim yang jauh lebih keras dari sebelumnya.

Halaman
12
Penulis: achiar m permana
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved