TribunJateng/

Ngopi Pagi

Semarang Tenggelam

Membaca judul di atas sungguh mengerikan dan menakutkan karena kota Semarang tercinta memang berada di pinggir laut.

Semarang Tenggelam
Istimewa
Banjir rob menggenangi pemukiman di Sidakaya Cilacap Selatan 

TRIBUNJATENG.COM - Membaca judul di atas sungguh mengerikan dan menakutkan karena kota Semarang tercinta memang berada di pinggir laut. Peringatan Semarang bagian bawah akan tenggelam dikatakan Dr Ir Suripin, seorang guru besar teknik sipil Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang pada 2016 lalu, memperkirakan tahun 2019 Kota Semarang bagian bawah akan tenggelam.

Prediksi itu didasarkan pada penurunan lahan di daerah pesisir dan terjadinya abrasi tahun demi tahun. Ditambah oleh pengambilan air tanah, beban bangunan, konsolidasi alamiah lapisan tanah, serta akibat gaya tektonik. Tentu, prediksi ini menggelayuti pikiran kita.

Sebelumnya juga ada kekhawatiran warga yang mengaku frustrasi daerahnya selalu terkena banjir rob, Nawi Mch yang menulis di kompasiana yang berjudul ‘Semarang akan Tenggelam’. Dalam Tulisan itu, salah satu yang menyebabkan Semarang Bawah tenggelam adalah akibat turunnya permukaan tanah akibat pemakaian air tanah yang tidak terkendali.Ditambah makin tingginya ‘Pasang Naik’ air laut waktu itu yang menurutnya bukanlah hal yang mudah untuk dilawan.

Maka dia mengusulkan untuk dapat mengatasi banjir dan makin tenggelamnya Semarang bawah, pemerintah diminta memanfaatkan kepemilikan kawasan pesisir pantai oleh swasta dan membuat kanal sungai dari daerah hulu (atas) seperti Sungai Kaligarang/Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur, Sungai Siangker, Sungai Beringin, dilokalisir dan dibuang langsung kelaut dengan cara dibuatkan tanggul yang tinggi dan kuat sampai ke laut.

Swasta pemilik tanah di pesisir pantai, diwajibkan untuk segera membangun kawasannya yang sekaligus dapat berfungsi sebagai tanggul bagi kota Semarang. Mereka diwajibkan untuk menyediakan sebagian lahan mereka dan membangun “Polder dengan pintu air yang dapat dibuka saat permukaan air Polder lebih tinggi dari permukaan laut” di dalam kawasannya dan Pemda menyediakan tambahan pompa untuk mengendalikan banjir.

Pompa yang diperlukan tidak akan terlalu besar seperti kalau seluruh garis pantai dipasang Dam, karena air yang masuk ke polder-polder tersebut adalah air dari sungai sungai yang berhulu di daerah rendah.
Dengan lokasisasi air sungai dan ‘Dam Pantai Swasta” serta Pompanisasi oleh Pemda, kiranya dapat menjadi alternatife solusi termurah buat membebaskan Semarang bawah dari ancaman tenggelam.

Menanggapi hal ini, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi (Hendi) mengatakan sekarang sudah tahun 2017 dan berarti dua tahun lagi Kota Semarang tenggelam. Maka dia minta berpikiran positif untuk bersama-sama menangani hal ini. “Minimal melakukan ‘4P’, yaitu pemerintah, pewarta, pengusaha dan penduduk.

Hendi mengatakan gerakan yang dilakukan adalah bersama-sama menanam pohon mangrove di daerah pesisir Kota Semarang. Setiap instansi yang sedang berulang tahun atau punya hajatan diwajibkan untuk melakukan penghijauan dengan menanam mangrove, dan hari ini, jika anda bepergian menggunakan pesawat, saat akan turun ke Ahmad Yani anda akan melihat daerah pesisir Kota Semarang sudah ‘ijo royo-royo’ (banyak pohon).

Penanaman pohon mangrove tersebut bertujuan itu untuk mencegah instrusi air laut, erosi dan abrasi pantai yang kerap terjadi pada daerah-daerah yang berada di pesisir Kota Semarang. Bahkan hingga kini sudah ada sejumlah sungai yang dinormalisasi, yaitu Banger, Banjir Kanal Barat dan lain-lain.

Untuk normalisasi Banjir Kanal Timur dan Sungai Beringin akan dikerjakan Januari depan. Tentunya, tanpa dilakukan bersama-sama dan bergandengan tangan untuk menyelamatkan Semarang khususnya bagian bawah dari banjir adalah hal mustahil. Semoga prediksi Semarang Tenggelam itu tidak akan terjadi,minimal bisa diminimalisir. Semoga!

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help