Ngopi Pagi

Anugrah dan Kutukan

Lagu dalam Album Cikal yang dirilis pada 1991 silam menggambarkan penolakan Iwan Fals terhadap PLTN

Anugrah dan Kutukan
Net
Ilustrasi 

Aku lebih suka tenaga matahari

Aku lebih suka tenaga panas bumi

Aku lebih suka dengan tenaga angin

Aku lebih suka tenaga arus laut

Demikian petikan lagu Proyek 13 karya maestro musik Indonesia, Iwan Fals. Lagu dalam Album Cikal yang dirilis pada 1991 silam menggambarkan penolakan Iwan Fals terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sekaligus menggambarkan "mimpinya" agar memilih sumber energi yang lebih ramah lingkungan semisal matahari, panas bumi, angin hingga laut.

Mimpi semacam itu tidak hanya jadi milik Iwan Fals semata. Namun tentunya, banyak masyarakat negeri ini yang juga punya keinginan serupa, termasuk saya. Alangkah indahnya jika kita memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita jadi sumber energi sehingga bisa mengurangi penggunaan fosil. Selain ramah lingkungan, tentu dari sisi cost yang dikeluarkan bisa ditekan.

Kabar baiknya adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Tanah Air, dalam pemberitaan dan pernyataannya, tengah berlomba menggapai target bauran energi baru terbarukan (EBT). Sebut saja Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang berusaha mengejar target EBT sebesar 23 persen pada 2025 mendatang. Tiap tahun, mereka menargetkan bisa menambah kapasitas pembangkit EBT.

Pun halnya dengan Pertamina. Dalam tahun-tahun mendatang, Pertamina bakal menggencarkan mengembangkan EBT dan siap untuk mengucurkan investasi di perusahaan yang bergerak dalam bidang tersebut. Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik mengatakan untuk masuk ke EBT, perusahaan akan memakai skema kerja sama hingga akuisisi perusahaan lain.

Indonesia adalah negara yang sangat kaya sumber energi, termasuk di Jawa Tengah. Belum lama ini, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo dibikin takjub dengan pemanfaatan gas rawa yang dilakukan masyarakat di Desa Rejek, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Gas rawa itu bisa dinikmati warga secara gratis.

Bukan hanya itu, sampah pun bisa jadi sumber energi. Misalnya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Kota Semarang dimana gas metan yang tersimpan dalam tumpukan sampah dimanfaatkan jadi sumber energi untuk memasak warga sekitar.

Bayangkan jika seluruh potensi energi di TPA dikelola dan dimanfaatkan, tentu tidak sedikit masyarakat yang akan girang lantaran tak perlu lagi harus mengeluarkan uang beli elpiji yang kadang langka. Itu baru TPA. Belum lagi menyebut energi matahari, mikro hidro, panas bumi dan lain sebagainya.

Mantan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo mengingatkan adanya Proxy War yang mengancam Indonesia. Banyak negara yang ingin "menguasai" Indonesia karena kekayaan sumber daya alamnya. Jangan sampai, anugrah Tuhan yang diwujudkan pada kekayaan SDA malah jadi “kutukan” karena kita yang terlambat menyadari dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan bangsa kita. (*)

Penulis: galih pujo asmoro
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved