MUSIM PENGHUJAN

SAWAH di Ketinggian 1.000 Meter pun Kebanjiran, Ini Buktinya

SAWAH di Ketinggian 1.000 Meter pun Kebanjiran. Dataran tinggi Kalibening di Banjarnegara sebagai buktinya

SAWAH di Ketinggian 1.000 Meter pun Kebanjiran, Ini Buktinya
tribunjateng/khoirul muzaki
TERGENANG - Lebih dari 50 hektare sawah petani di kecamatan Kalibening Banjarnegara kembali tergenang banjir, Jumat (22/12). Padahal daerah itu berada pada ketinggian 1.000 di atas permukaan laut. 

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Umumnya banjir terjadi di wilayah hilir atau dataran rendah. Namun banjir di Banjarnegara ini justru terjadi di wilayah dataran tinggi Kalibening yang memiliki ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut.

Musim penghujan ini harusnya jadi berkah bagi para petani di Kecamatan Kalibening yang sawahnya bergantung dengan air hujan. Saat kemarau, seratusan hektare sawah petani di daerah itu telantar karena tak ada asupan air.

Saat lahan terbasahi hujan, para petani mulai mengangkat kembali cangkul di rumah mereka untuk membajak sawah. Namun harapan mereka ini sama besarnya dengan kecemasan yang melanda.

Hujan membantu mengairi sawah petani sehingga padi bisa tumbuh baik. Namun di sisi lain, hujan bisa balik melahirkan petaka jika turun lebat hingga membanjiri sawah.

TERGENANG - Lebih dari 50 hektare sawah petani di kecamatan Kalibening Banjarnegara kembali tergenang banjir, Jumat (22/12). Padahal daerah itu berada pada ketinggian 1.000 di atas permukaan laut.
TERGENANG - Lebih dari 50 hektare sawah petani di kecamatan Kalibening Banjarnegara kembali tergenang banjir, Jumat (22/12). Padahal daerah itu berada pada ketinggian 1.000 di atas permukaan laut. (tribunjateng/khoirul muzaki)

Khodim, Kepala Desa Kalibening pusing memikirkan sawahnya yang berkali-kali terendam banjir. Sawahnya yang telah menghijau berubah danau hingga pucuk tanaman tertutup muka air.

Baru beberapa hari surut usai banjir pada 18 hingga 19 Desember lalu, 50an hektare sawah di blok Sindu Kalibening kembali direndam banjir sejak Jumat (22/12).

"Sawah ini milik ratusan petani di enam desa, yakni Desa Gununglangit, Bedana, Sikumpul, Sirukun, Karanganyar dan Kalibening," katanya, Sabtu (23/12)

Masalahnya banjir di areal persawahan ini tidak mengenal waktu, atau lekas surut lazimnya banjir di tempat lain. Sawah di tempat ini bisa terendam bukan hanya dalam hitungan hari, namun bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Tanaman padi mana yang kuat bertahan jika terus-terusan terendam banjir. Keyakinan petani akan musim hujan yang indah berubah bayangan menyeramkan karena ancaman gagal panen.

Dalam kondisi demikian, Khodim hanya bisa pasrah. Selebihnya ia melangitkan doa agar Yang Maha Kuasa mengasihi tanamannya sehingga mampu bertahan dari terpaan banjir.

Halaman
12
Penulis: khoirul muzaki
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved