TribunJateng/

Ngopi Pagi

Berdamai dengan Bencana

Menjelang akhir tahun 2017, kabar duka datang dari negara tetangga, Filipina. Badai besar yang dinamakan siklon tropis Tembin

Berdamai dengan Bencana
bbc
Badai tropis Tembin dikenal di Filipina sebagai Badai Vinta, mulai menghantam Mindanao pada hari Jumat (22/12). Hingga Minggu 24 Desember sudah tercatat lebih dari 180 orang tewas. 

TRIBUNJATENG.COM - Menjelang akhir tahun 2017, kabar duka datang dari negara tetangga, Filipina. Badai besar yang dinamakan siklon tropis Tembin menerjang pulau Mindanau, Pulau terbesar kedua di negara itu sejak Jumat (22/12).

Topan Tembin pun memicu banjir bandang dan tanah longsor. Terkini, dilaporkan korban tewas mencapai 240 jiwa.Kantor berita Filipina, Philstar, melaporkan, pihak kepolisian mencatat 171 orang dinyatakan masih hilang dan lebih dari 40 ribu orang mengungsi sejak Tembin mengamuk.

Sementara Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyebut kurang lebih 70 ribu orang terlantar. Bahkan sebuah desa bernama Anungan di Semenanjung Zamboanga, Mindanau, lenyap hanyut ke laut.

Menurut Reuters, jumlah korban sesungguhnya belum terdeteksi karena masih banyak daerah-daerah terpencil yang belum bisa dijangkau bantuan.

Setelah meluluhlantakkan Mindanau, Tembin sempat diprediksi akan meninggalkan jejaknya di Vietnam sehingga negara tersebut mengungsikan lebih dari satu juta warga yang tinggal di dataran rendah. Kabar terbaru, badai sudah mulai mereda sehingga pencarian korban bencana bisa lebih fokus.

Negara tetangga seperti Malaysia pun sudah menyatakan kesiapan mereka untuk mengulurkan tangan.

Kemarin, Selasa (26/12), Bangsa Indonesia mengenang tragedi tsunami Aceh yang terjadi 13 tahun lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Saat itu gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3 skala Richter mengguncang dasar laut di barat daya Sumatra sekitar 20-15 kilometer lepas pantai. Gempa disusul gelombang tsunami yang menerjang pulau Sumatera hingga daratan Afrika.

Sehari berselang, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan tsunami di Aceh seebagai bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi. Sekretaris Jendral PBB saat itu, Khofi Annan, mengungkap bencana menewaskan 115.000 korban jiwa.Data lain bahkan menyebutkan korban tewas mencapai 230.000 jiwa dan Indonesia dinyatakan sebagai kawasan terdampak paling parah, lebih dari 100.000 korban jiwa.

Topan Tembin tentu berbeda dengan tsunami 13 tahun lalu. Tapi seolah ada keterkaitan emosional karena berlangsung saat Indonesia mengenang tragedi Aceh. Seolah kita disadarkan bahwa bencana alam senantiasa mengintai hingga kita tidak boleh lengah.

Bahwa Indonesia berdasarkan data PBB merupakan salah satu negara di dunia yang paling rawan bencana baik itu tsunami, tanah longsor, gunung berapi, gempa serta banjir.

Dalam hal penanggulangan bencana, ada baiknya belajar pada Jepang. Sama seperti Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik, Jepang juga kerap dilanda tsunami dan gempa. Namun Mereka berusaha berdamai hingga saat bencana datang, korban jiwa dan harta benda bisa diminimalisir.

Jepang sejak 1 September 1960 rutin memperingati hari penanggulangan bencana nasional. Mereka memberikan pendidikan bencana sejak usia dini, rutin menggelar pelatihan evakuasi bencana di sekolah-sekolah dan membangun infrastruktur yang ramah bencana.

Ada baiknya pula sebagai warga negara kita memulai dari hal yang paling kecil. Sebagai misal membuang sampah pada tempatnya, agar tidak menyumbat selokan yang mengakibatkan banjir, dan tidak melakukan penebangan liar, melainkan sebaliknya menanam pohon untuk penghijauan agar mencegah longsor. Mari memulai langkah kecil untuk berdamai dengan bencana. (*)

Penulis: muslimah
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help