Jumali Merasa Kehidupannya Seperti Baru Lagi Usai Terima Bantuan Kaki Palsu dari Wali Kota Semarang

Sebelumnya, Jumali selama bertahun-tahun harus menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan

Jumali Merasa Kehidupannya Seperti Baru Lagi Usai Terima Bantuan Kaki Palsu dari Wali Kota Semarang
Tribun Jateng/M Zaenal Arifin
Wali Kota Semarang memasangkan kaki palsu kepada difabel. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Wajah Jumali langsung sumringah usai menerima bantuan kaki palsu dari Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, dalam acara peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) di gedung Balaikota Semarang, Kamis (28/12/2017).

Warga Mijen, Kota Semarang, itu kini bisa berjalan layaknya orang normal lainnya. Sebelumnya, Jumali selama bertahun-tahun harus menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan.

"Rasanya senang bisa berjalan seperti lainnya. Seolah saya merasa kehidupan saya baru lagi dengan bantuan kaki palsu ini," katanya usai menerima bantuan.

Ia menuturkan, selalu mengalami kendala saat melakukan berbagai aktivitas setiap hari. Terlebih jika harus bepergian jauh dan naik angkutan umum. Tidak jarang, ia menerima ucapan tidak menyenangkan dari orang lain yang melihat dirinya berjalan menggunakan tongkat.

"Awal-awal dulu malah rasanya hidup saya tidak berguna. Namun saya mencoba bertahan dengan keadaan saya yang difabel ini. Sampai akhirnya saya terbiasa," ucapnya.

Jumali merupakan satu dari sekian difabel di Kota Semarang yang menerima bantuan alat bantu berjalan dari Pemkot Semarang. Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, menyerahkan bantuan kaki palsu dan kursi roda untuk difabel.

Hendrar Prihadi, meminta masyarakat Kota Semarang untuk tidak mendiskriminasikan, mencibir apalagi mengucilkan difable yang hidup dan dibesarkan di Kota Semarang.

Justru yang harus dilakukan adalah membantu membangun karakter para kaum difable supaya bisa beraktifitas, berkarya dan mandiri bersama warga Kota Semarang lainnya.

"Mereka yang memiliki keterbatasan dengan bantuan alat diharapkan bisa melakukan aktifitas secara normal dan baik. Apakah cukup dengan itu? Saya rasa nggak. Buatlah lingkungan kawan-kawan ini bisa hidup ada di sekitar kita, dengan keterbatasan yang mereka miliki tanpa mencibir kondisi dan apa yang mereka lakukan," kata Hendi.

Hendi menegaskan, konsep pembangunan Kota Semarang yang dicanangkannya adalah pembangunan bersama yang
mengedepankan konsep bergerak bersama. Sehingga, perlu adanya banyak tangan untuk mengatasi persoalan-persoalan di Kota Semarang.

"Tidak salah kemudian konsep pembangunan Kota Semarang itu bergerak bersama. Kalau pembangunan hanya dilakukan pemerintah saja maka tidak akan berjalan dengan baik
dan cepat. Maka jika semua warga ikut membantu lainnya, beban pemerintah semakin ringan," terangnya.

Hendi justru mngapresiasi komunitas difable di Kota Semarang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama. Terbukti, para difable Kota Semarang mempunyai tim peduli bencana yang selalu siap siaga.

"Tim ini mobilitasnya sangat tinggi. Saya lihat dimana-mana selalu ada mereka. Ibarat kata, kalau kita kemudian bisa melihat mereka bisa saling membantu. Mestinya bapak ibu sekalian yang diberi kehidupan normal bisa membantu lebih dari pada sahabat-sahabat difable," katanya.  (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help