Ngopi Pagi

Liburan dan Kemacetan

Nyaman, tenang, damai, dan bergembira. Itulah setidaknya yang ingin kita dapatkan saat menikmati suasana liburan.

Liburan dan Kemacetan
TRIBUNJATENG/MAMDUKH ADI PRIYANTO
PADAT MERAYAP - Peningkatan jumlah kendaraan diduga jadi penyebab kemacetan di jalur Jateng Kabupaten Brebes dan Tegal, Sabtu (23/12/2017). Penghubung jalur pantura dan selatan itu banyak dipadati kendaraan pribadi bernomor polisi luar daerah. 

TRIBUNJATENG.COM - Nyaman, tenang, damai, dan bergembira. Itulah setidaknya yang ingin kita dapatkan saat menikmati suasana liburan.

Namun, untuk mendapatkan itu semua bukanlah sesuatu yang mudah di negeri ini. Sebab, setiap kali libur, entah itu liburan semester sekolah, hari raya keagamaan, atau libur nasional, yang terjadi adalah kemacetan di mana-mana.

Tidak hanya di jalan raya, pusat perkotaan, ataupun perbelanjaan, di jalan tol maupun tempat menuju wisata pun, macet. Jadinya, harapan untuk mendapatkan kenyamanan, ketenangan, kedamaian, dan kegembiraan pun jadi sirna, berubah kedongkolan, kedengkian, dan saling caci saat di jalan.

Suasana libur Natal dan menyambut Tahun Baru 2018 pun tak jauh beda. Meski jalan tol juga sudah ditambah, nyatanya kemacetan juga masih terjadi.

Kita tentu tidak bisa menyalahkan jumlah volume kendaraan di jalan raya yang kian tahun selalu bertambah. Sebab, tidak mungkin juga melarang setiap orang untuk memiliki kendaraan. Mengingat, itu adalah bagian dari hak asasinya. Selain itu, bertambahnya orang yang memiliki kendaraan, juga menjadi salah satu bukti dari kesejahteraan di masyarakat meningkat. Secara politis, itu menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam mensejahterakaan rakyatnya.

Lalu, kemacetan itu salah siapa? Tentu kita juga tidak bisa menyalahkan pengendara. Karena mereka memiliki hak atas jalan raya dari pajak kendaraan yang mereka bayarkan setiap tahun. Ya, secara politis, kalau kita mau menunjuk siapa yang patut disalahkan atas kemacetan yang terjadi setiap liburan tiba, ya pemerintah!

Kenapa pemerintah? Karena pemerintah yang memiliki kewenangan dan kebijakan dalam menegakkan aturan di jalan. Melalui Kementrian Perhubungan dan kepolisian, ketertiban di jalan raya diserahkan. Pihak Kementrian Perhubungan dan Kepolisian, mestinya tidak hanya sibuk menyiapkan rekayasa lalu lintas saat-saat menjelang liburan. Jauh hari, mestinya sudah dipersiapkan segala kemungkinan rekayasa titik-titik macet. Sifatnya tidak mendadak atau saat mendekati liburan baru dipersiapkan! Bila memungkinkan, bakan Pos Pam yang didirikan saat menyambut liburan keagamaan, tetap dipertahankan di hari-hari biasa, sehingga kelancaran lalu lintas juga akan selalu terjaga.

Selain itu, bagi pemerintah, tentu tidaklah cukup hanya sekadar menyediakan jalan tol, yang hanya berfungsi untuk mobil. Kendaraan roda dua juga perlu juga untuk dipikirkan bisa masuk tol, tentu dengan penyediaan jalur khusus, sehingga tidak bercampur dengan mobil seperti halnya di jalan raya.

Sebab, pada dasarnya banyak juga masyarakat yang membutuhkan akses cepat mencapai tujuan dengan bermoda kendaraan roda dua. Jadi, tidak hanya mereka yang bermobil saja yang diberi akses kenyamanan menikmati tol. Kalaupun harus bayar di tol, pemakai kendaraan roda dua pun pasti tidak akan keberatan.

Karena itu, agar saat liburan masyarakat tidak menikmati kemacetan, maka solusi alternative di atas harus mulai dipikirkan oleh pemerintah. Sehingga, masyarakat benar-benar bisa menikmati kenyamanan, ketenangan, kedamaian dan kegembiraan saat liburan, bukan kemacetan yang bikin pening kepala! (*)

Penulis: rustam aji
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help