Yosep Parera: Mentalitas Pelaku Sangat Rendah

Seorang pengemudi mobil Isuzu Panther warna silver mengacungkan pistol ke petugas pengawas Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang,

Yosep Parera: Mentalitas Pelaku Sangat Rendah
Pistol.(Thinkstock) 

TRIBUNJATENG.COM - Seorang pengemudi mobil Isuzu Panther warna silver mengacungkan pistol ke petugas pengawas Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang, Kamis (28/12).

Aksi koboi ini terjadi di shelter BRT Jalan Imam Bonjol, Kota Semarang. Pengemudi mobil diduga emosi karena ditegur saat parkir sembarangan.

Menanggapi kejadian tersebut, Ketua Perhimpunan Advokad Indonesia (Peradi) Kota Semarang, Theodorus Yosep Parera mengatakan, mentalitas pelaku bisa dibilang rendah.

Baca: Sopir Panther Acungkan Pistol ke Petugas BRT, Polisi Sudah Kantongi Identitas Pelaku

Memiliki senjata, pelaku merasa punya kekuasaan dan bisa berlaku sewenang-wenang.

"Dia menganggap orang lain itu kecil," kata Yosep kepada Tribun Jateng.

Dalam kasus ini, kata Yosep, pelaku bisa dijerat pasal 335 KUHP tentang perbuatan yang tidak menyenangkan yang telah disempurnakan dengan putusan MK tahun 2014 atau Undang Undang Darurat nomor 12 tahun 1951.

"Perbuatan tidak menyenangkan ada ancaman fisik," katanya.

Menurut Yosep, terkait kepemilikan senjata diatur Undang Undang Darurat 12 tahun 1951 dan Perpu nomor 20 tahun 1960 yang mengatur senjata api tidak boleh dimiliki oleh perorangan.

"Seiring perkembangan, keluarlah Peraturan Kapolri nomor 82 tahun 2004 tentang pengawasan senjata organik. Ada beberapa kategori, mulai dari senjata api, senjata peluru tajam, peluru karet hingga senjata gas. Diperbolehkan namun ada syarat khusus untuk kepemilikannya," katanya.

Dari sudut pandang hukum, Yosep mengatakan polisi harus memastikan apakah pelaku memiliki izin kepemilikan senjata atau tidak. Apabila tidak memiliki izin, maka polisi bisa menjerat pelaku Undang Undang Darurat, namun apabila pelaku memiliki izin maka bisa dijerat pasal 335 KUHP.

"Sesuai pasal 20 ayat 4 huruf a KUHAP, pelaku bisa ditahan meski ancaman hukuman pasal 335 KUHP satu tahun. Kalau tidak punya izin, maka kena Undang Undang Darurat, ancaman hukumannya 20 tahun penjara, seumur hidup maksimal hukuman mati," katanya.

Menurut Yosep, izin kepemilikan senjata api menekankan senjata digunakan sesuai perizinannya.

Apabila izinnya untuk latihan menembak seperti kebanyakan dimiliki oleh anggota Perbakin, maka senjata itu tidak boleh dibawa kemana mana terlebih digunakan untuk menakut nakuti orang.

"Jadi apabila izinnya untuk olahraga atau latihan menembak, tidak boleh dibawa kemana mana. Apalagi takut takuti orang," pungkasnya. (*)

Penulis: muh radlis
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved