Di Balik Nama Osamaliki, Jalan di Salatiga Penghubung Semarang-Solo

Bagi pelintas yang bisa berlalu lalang di jalur Semarang-Surakarta, tentu pernah melewati jalan ini.

Di Balik Nama Osamaliki, Jalan di Salatiga Penghubung Semarang-Solo
ponco wiyono

Laporan wartawan Tribun Jateng, Ponco Wiyono

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Bagi pelintas yang bisa berlalu lalang di jalur Semarang-Surakarta, tentu pernah melewati jalan ini.

Berada di dalam Kota Salatiga, Jalan Osamaliki merupakan jalan protokol yang bisa digunakan selain jalur lingkar Salatiga untuk kendaraan berat.‎ Sebagian orang mungkin bertanya-tanya, siapa sebenarnya sosok Osamaliki ini sampai-sampai namanya diabadikan untuk nama jalan.

Pemerhati sejarah Kota Salatiga Abel Jatayu Prakosa mengatakan, Osamaliki merupakan salah satu tokoh Partai Nasional Indonesia di tahun 1960an.‎ Lelaki asal Padalarang Jawa Barat itu sempat memberikan pidato saat Kongres ke V GMNI di Salatiga tahun 1969.

"Kongres tersebut sebenarnya hendak digelar di Jakarta tahun 1965 namun gagal karena Gestok. Osamaliki sendiri bisa dikatakan satu gerbong dengan rezim kala itu pimpinan Soeharto," jelas Abel, Selasa (2/1/2018).

Sebelumnya, jalan tersebut dinamai Kweekschool laan di jaman Belanda. Abel menambahkan, pergantian nama jalan terjadi pertama kali saat Kweekschool laan berubah nama menjadi Jl Andong.

"Pergantian nama menjadi Jl Osamaliki terjadi saat pemerintahan Walikota Letkol Sugiman yang memimpin Salatiga dua periode, yakni 1966 sampai 1976," terang lulusan Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro ini.

Menurut Abel, dijadikannya nama Osamaliki itu didasari kiprah yang bersangkutan dalam usaha mempersatukan bangsa Indonesia. Osamaliki meninggal di usia 62 tahun pada tahun yang sama ketika ia berpidato dalam Kongres ke V GMNI, dan Abel mengaku belum menemui catatan apakah Osamaliki pernah tinggal di Salatiga atau tidak.

"Yang belum bisa saya pastikan adalah apakah Osamaliki meninggal tak lama setelah memberi pidato atau ia sempat bermukim di Salatiga, sebab antara waktu ia berpidato dan meninggal dunia karena serangan jantung sama-sama di tahun 1969," ujarnya lagi.

Jl Osamaliki kurang lebih panjangnya hanya satu kilometer, terhimpit di antara Jl Wahid Hasyim dan Jl Veteran.‎ Salah satu bangunan utama yang berada di jalan tersebut adalah gedung Dewan Piminan Daerah Partai Berkarya. (pow)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved