TribunJateng/

Ngopi Pagi

Resolusi Retorika

Menyambut tahun baru, orang beramai-ramai membuat resolusi, yang dimaknai sebagai sebuah janji atau harapan yang hendak dicapai

Resolusi Retorika
TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV PRADANA
Lampion yang diterbangkan bersamaan peluncuran kembang api pada malam Tahun Baru di Waduk Jatibarang, Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (31/12/2017) malam. 

TRIBUNJATENG.COM - Menyambut tahun baru, orang beramai-ramai membuat resolusi, yang dimaknai sebagai sebuah janji atau harapan yang hendak dicapai, baik secara pribadi maupun kelompok atau organisasi.

Euforia itu seolah telah menjadi sesuatu yang lazim di tengah masyarakat, entah di tahun-tahun sebelumnya memang benar-benar bisa mencapai resolusi yang dicanangkan, atau justru sebaliknya.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) misalnya. Pada 2018 ini, lembaga antirasuah itu memiliki sebuah resolusi untuk pemberantasan korupsi di negeri ini.
Dua kasus yang menjadi resolusi utama KPK untuk dituntaskan tahun ini yaitu kasus tindak pidana korupsi pengadaan kartu penduduk berbasis elektronik (e-KTP), serta kasus tindak pidana korupsi pemberian Surat Keterangan Lunas (SKL) terhadap obligor penerima Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

"Resolusi 2018 yaitu kasus e-KTP dan BLBI bisa selesai tuntas," kata Wakil Ketua KPK, Laode Syarief, kepada kompas.com, Senin (1/1).
Selain kedua kasus itu, Laode menyebut, resolusi KPK lain yakni lebih banyak tindak pidana korupsi korporasi dan korupsi sumber daya alam yang sampai ke penuntutan.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pun mengaku mempunyai resolusi di 2018. Dia menginginkan bisa menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.
"Saya sendiri kalau ditanya apa ke depan, dua kata, lebih baik dalam semua hal, baik di keluarga, pekerjaan, masyarakat. Insyaallah pergantian tahun ini kita jadikan momentum untuk lebih baik dalam semuanya," ujar Anies di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin (1/1).

Yah, siapa pun boleh membuat resolusi. Tetapi, sering kali harapan yang sudah dicanangkan jauh-jauh hari itu justru terlupakan begitu saja, karena kebiasaan lama yang susah ditinggalkan.

Contoh nyata, pagi kemarin seorang teman saya berkata telah membuat resolusi untuk berhenti merokok di 2018 ini. Setengah hari berlalu, ia pun sudah terlihat merokok lagi karena alasan pusing.

Dalam sebuah kotbah menjelang pergantian tahun, Pendeta JKI Agape Semarang, Antonius Sartono mengatakan, tahun baru tidak akan membuat Anda berubah dalam hal apa pun. Anda akan tetap sama seperti sebelum-sebelumnya.

"Anda hanya bisa berubah jika di dalam diri Anda menginginkan perubahan. Bukan tahun baru yang akan mengubah Anda, tetapi komitmen untuk berubah," katanya.

Resolusi kadang hanya menjadi sebuah keinginan, misalnya seseorang yang ingin berat badannya turun. Tetapi, bisakah hal itu dibarengi dengan komitmen untuk bangun pagi dan olahraga?

Saya kira, komitmen dalam diri itulah yang paling penting untuk dijaga, sehingga membuat resolusi yang dicanangkan bisa tercapai, bukan sekedar retorika. Selamat tahun baru. (*)

Penulis: arief novianto
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help