Dishub Kota Semarang Tak Miliki Lahan untuk Tampung Bus Tidak Laik Jalan yang Disita

Menurut Kabid Angkutan Dishub Kota Semarang, Suyatmin, kondisi seperti itu tidak hanya terjadi di Kota Semarang saja.

Dishub Kota Semarang Tak Miliki Lahan untuk Tampung Bus Tidak Laik Jalan yang Disita
TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA
Sejumlah BRT Trans Semarang sedang menaikkan dan menurunkan penumpang di selter Jalan Pemuda Kota Semarang. Mulai hari ini BRT sudah dioperasikan kembali karena sebelumnya ada sekitar 6 BRT yang di kandangkan karena mengalami kerusakan, Kamis (11/1/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, mengakui masih banyak angkutan umum bus yang berusia lanjut dan masih beroperasi.

Menurut Kabid Angkutan Dishub Kota Semarang, Suyatmin, kondisi seperti itu tidak hanya terjadi di Kota Semarang saja.

Secara aturan, katanya, bus tidak laik jalan memang harus disita dan tidak boleh beroperasi. Tetapi pihaknya terkendala minimnya lahan untuk menampung bus yang berusia lanjut tersebut jika dilakukan penyitaan.

"Seharusnya memang disita dan tidak boleh beroperasi. Tapi kami terkendala tidak ada lahan parkir. Ke depan sudah kami pikirkan," katanya, Kamis (11/1/2018).

Baca: Dinas PU Kota Semarang Blacklist Dua Kontraktor Pelaksana Proyek 2017, Ini Sebabnya

Rencananya, lahan milik Pemkot Semarang di sebelah Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) akan dipakai untuk menampung bus yang disita.

Dishub sudah mengajukan permohonan pemakaian lahan tersebit kepada bagian aset Pemkot.

Menurutnya, persoalan angkutan umum dilematis. Terlebih, saat ini dunia bisnis angkutan umum seperti mati suri.

Selain menjamurnya taksi baik konvensional maupun online, adanya BRT dari pemerintah, juga pertumbuhan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat yang tak terbendung.

"Bahkan hanya dengan uang muka Rp 500 ribu bisa pulang membawa motor baru. Ini menjadi salah satu faktor yang otomatis sangat berpengaruh sekali bagi pengusaha bus," terangnya.

Fenomena masyarakat mulai meninggalkan angkutan umum, mengakibatkan omzet pendapatan pengusaha angkutan anjlok. Kondisi yang demikian membuat pengusaha tidak mampu melakukan peremajaan armada.

"Sehingga, mau tidak mau bus yang sudah ada itu dipaksa beroperasi terus. Lah pendapatannya saja minim sehingga tidak cukup untuk membeli bus baru," ujarnya.(*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help