Panwaskab Kudus Duga Ada ASN Memobilisasi Massa Pendaftaran Bakal Calon

Panitia Pengawas Kabupaten Kudus menemukan adanya pelanggaran oleh aparat sipil negara (ASN) saat pendaftaran calon di KPU Kudus

Panwaskab Kudus Duga Ada ASN Memobilisasi Massa Pendaftaran Bakal Calon
tribunjateng/dok
Pilkada serentak di Jawa Tengah akan digelar 27 Juni 2018 

 Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

 TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Panitia Pengawas Kabupaten (Panwaskab) Kudus menemukan adanya pelanggaran oleh aparat sipil negara (ASN) saat pendaftaran calon di KPU Kudus, Senin (8/1/2018) kemarin.

Wahibul Minan, Ketua Panwaskab Kudus mengatakan, pelanggaran tersebut yaitu terkait adanya mobilisasi massa guru tidak tetap (GTT) yang ikut andil dalam mengantarkan pasangan bakal calon Masan-Noor Yasin ke KPU. Yang menjadi persoalan di sini bukan GTT, namun berangkatnya GTT lantaran adanya suruhan dari kepala sekolah mereka.

“Kami telah melakukan investigasi terkait hal itu. Dan ternyata dugaan itu sangat kuat, meskipun hingga kini kami belum mendapatkan bukti terkait upaya mobilisasi yang dilakukan oleh ASN,” kata Minan, Kamis (11/1/2018).

Sebenranya, pihaknya telah mengetahui kabar tersebut sebelum pendaftaran. Namun saat dibuktikan ketika pendaftaran rupanya benar adanya. Pihaknya menemukan adanya daftar hadir.

“Kami sebelumnya telah mendapatkan rumor. Saat kami buktikan ketika pendaftaran ternyata rumor tersebut benar adanya. Ada guru GTT yang mengaku disuruh oleh kepala sekolah tempat ia mengajar untuk ikut mengantarkan pasangan Masn-Noor Yasin,” katanya.

Dia mengaku telah menelusuri adanya pelanggaran tersebut Rabu malam. Menurut keterangan orang yang ikut arak-arakan pendaftaran, seorang guru GTT di Kecamatan Dawe, memang yang bersangkutan disuruh kepala sekolah dan diberi uang transport sebesar Rp 235 ribu.

Ia mengatakan, unsur pelanggaran tersebut yaitu upaya menyuruh yang dilakukan ASN, karena melanggar PP 53 terkait pelanggaran PNS dalam kegiatan politik.

Meski telah mendapatkan keterangan, pihaknya mengaku sulit mendapatkan bukti lebih lanjut. Selain itu guru GTT yang telah dimintai keterangan tidak berkanan menjadi saksi.

“Bukti yang kami temukan hanya daftar hadir disertai nomor telepon. Itupun yang bisa dihubungi cuma dua,” katanya.

Agar tidak terulang, pihaknya telah melayangkan surat kepada dinas terkait. Terlebih sebentar lagi menginjak masa kampanye bagi masing-masing calon.

“Agar tidak terulang maka kami telah melayangkan surat kepada dinas pendidikan dan UPT pendidikan,” katanya.

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help