FOCUS

Pilihan Itu Soal Selera

Pilihan Itu Soal Selera. Pastinya, hal itu membuat suhu politik di Jateng mulai memanas. Sejumlah politisi yang tak sejalan

Pilihan Itu Soal Selera
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
RUSTAM AJI wartawan Tribun Jateng 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kontestasi pemilihan kepala daerah di Jawa Tengah (Jateng) 2018 serentak telah dimulai. Baik itu untuk Pemilihan Calon Gubernur-Wakil Gubernur maupun Calon Bupati-Wakil Bupati dan Calon Wali Kota-Wakil Wali Kota. Sejumlah pasangan calon yang diusung partai politik ataupun yang maju secara perseorangan telah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum.

Pastinya, hal itu membuat suhu politik di Jateng mulai memanas. Sejumlah politisi yang tak sejalan dengan garis kebijakan partai pun, sudah ada yang dipecat.

Soal pilihan, sebenarnya adalah soal selera. Namun, bagi kader partai, hal itu tentu ada konskuensi bila tak sejalan dengan instruksi partai. Nasib tragisnya tentu saja bisa berujung pada pemecatan sebagai anggota partai.

Hal itu tentu berbeda dengan pilihan warga masyarakat biasa. Soal pilihan kepada para calon, tidak ada urusan dengan partai politik. Hanya saja, soal selera pilihan masyarakat justru bisa menjadi lebih rumit dari anggota partai politik. Bagi mereka yang sudah berkeluarga, bahkan perbedaan soal pilihan ini, bisa berujung pada retaknya hubungan rumah tangga, bahkan bisa berujung sampai perceraian.

Banyak faktor yang bisa mempengaruhi pilihan masyarakat terhadap calon. Mulai dari faktor money politics, adanya hubungan kekeluargaan terhadap pasangan calon, kesamaan organisasi, sebagai simpatisan partai politik, hingga idealisme. Bagi masyarakat, pilihan karena faktor terakhir itu saya rasa masih jarang. Sebab, seringkali proses politik diwarnai transaksional. Slogan “No Money Politics!” pun tak mempan. Karena pada kenyataannya, praktik itu masih terjadi pada setiap pesta demokrasi digelar meski kampanye tolak money politics masif dilakukan oleh para aktivitis.

Akahkah hal itu juga terjadi pada Pilkada serentak di Jateng? Kembali lagi, itu soal selera. Ibarat kita mau makan, kita tidak hanya sekadar melihat lauk apa yang tersaji, tetapi penyajian dan tampilan makanan juga penting. Karena itu, bila makanan enak tetapi penyajian dan tampilannya kurang menarik, itu akan membuat orang jadi tak minat makan. Sebaliknya, makanan yang biasa-biasa saja tetapi penyajiannya bagus, pasti akan menggugah selera makan kita.

Karena itu, secara idealitas, selera pilihan masyarakat akan sangat bergantung pada bagaimana para calon pemimpin daerah mampu memberikan janji-janji yang menarik dan realistis. Seperti halnya tagline yang dulu pernah diusung Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko, yakni “Mboten korupsi lan mboten ngapusi”. Bagi masyarakat Jateng ketika itu, tagline tersebut cukup realistis, sehingga sebagian besar warga Jateng menjatuhkan pilihan kepada mereka. Tapi apakah kemudian Ganjar Pranowo akan kembali mengusung tagline tersebut bersama Taj Yasin di Pilgub Jateng 2018 ini? Tentu ini sangat tergantung dengan dinamika yang berkembang di masyarakat, apalagi Ganjar dikait-kaitkan dengan kasus e-KTP.

Di sisi lain, sebagai “penantang” incumbent, pasangan Sudirman Said-Ida Fauziah, juga harus mampu membuat tagline yang lebih menarik bila ingin mendapat simpati warga Jateng.

Tentu saja, itu masih baru sebatas tampilan luarnya. Agar lebih menarik lagi, maka kedua pasangan calon harus memperkuat lagi dengan janji program dan bukti yang bisa meluruhkan hati para pemilih. Lebih-lebih, Pilkada serentak ini sebagai “pemanasan” menuju pemilihan presiden (Pilpres) 2019. (tribunjateng/rustam aji)

Penulis: rustam aji
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help