TribunJateng/

Unik dan Kreatif, Pasangan Pengantin Ini Pakai Busana dan Dekorasi Pelaminannya dari Limbah

Momentum langka ini terjadi di sebuah dusun nan jauh dari kota, Dusun Mendingin Desa Gentansari Kecamatan Pagedongan Banjarnegara.

Unik dan Kreatif, Pasangan Pengantin Ini Pakai Busana dan Dekorasi Pelaminannya dari Limbah
ISTIMEWA
Pasangan mempelai Pawit Wahono dan Eni Rahmawati dari Desa Gentansari Pagedongan Banjarnegara memakai kostum berbahan limbah di pesta perkawinannya, tanggal 1 Januari 2018. 

Baca: Fahri Minta KPK Sebutkan 14 Nama yang Terlibat Setelah Novanto Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator

Namun Pawit terus meyakinkan pasangannya itu serta membuka pikirannya tentang misi mulia di balik itu semua. Eni akhirnya tersadar dan bersedia mengenakan kostum tersebut di hari perkawinannya.

"Istri saya akhirnya menurut. Karena saya yakinkan, meski berbahan limbah, namun tetap indah dan tak akan memalukan,"katanya.

Ruang resepsi pernikahan Pawit Wahono dan Eni Rahmawati di Desa Gentansari Pagedongan Banjarnegara bernuansa limbah. Seluruh dekorasi berbahan limbah .
Ruang resepsi pernikahan Pawit Wahono dan Eni Rahmawati di Desa Gentansari Pagedongan Banjarnegara bernuansa limbah. Seluruh dekorasi berbahan limbah . (ISTIMEWA)

Tak disangka, respon masyarakat terhadap resepsi bernuansa limbah ini ternyata positif. Keraguan yang sempat menghantui para pemuda karang taruna dan mempelai berubah optimis.

Para tamu yang datang bukan hanya mereka yang diundang, namun juga masyarakat yang penasaran terhadap pesta bernuansa limbah itu. Para tamu bahkan rela mengantre agar bisa berfoto bersama pengantin berkostum limbah.

Antusiasme warga pada pesta perkawinan ini tentu saja membuat pasangan tersebut, juga para pemuda karang taruna bangga.

Sebab misi utama mereka bukan sebatas euforia pesta. Pawit bersyukur, momentum itu jadi kesempatan bagi dia dan teman-temannya untuk mengampanyekan pemanfaatan limbah kepada masyarakat luas.

Nyatanya, banyak tamu yang akhirnya menanyakan pemanfaatan limbah itu kepada anggota karang taruna. Mereka perlahan tersadarkan, atau minimal tahu, sampah yang setiap hari mereka siakan bisa diolah menjadi barang bernilai.

"Selain hemat biaya nikah, kami ingin kampanyekan pemanfaatan limbah dengan cara yang berbeda," katanya.

Baca: ASTAGA! Bayi Perempuan Ditemukan Tewas di Selokan, Diduga Ibunya Seorang Penghuni Kos

Andika, pendamping kelompok Pelita Mas mengatakan, di luar acara ini, kelompoknya biasa mengadakan berbagai even dengan konsep pemanfaatan limbah.

Di antaranya peragaan busana di tingkat Sekolah Menengah Atas di Banjarnegara dan Festival Jerami yang memanfaatkan limbah pertanian.

Kelompok karang taruna ini mulai berlatih membuat bermacam kerajinan berbahan limbah sekitar setahun lalu.

Para pemuda di dusun ini memiliki semangat sama untuk membebaskan kampung mereka dari limbah yang jadi masalah bagi lingkungan.

Mereka membangun bank sampah serta mengajak warga desa untuk menabung limbah yang bisa ditukar dengan uang oleh kelompok ini.

Sebuah rumah kosong milik warga dimanfaatkan para pemuda ini sebagai bank sampah sekaligus rumah produksi kerajinan berbahan limbah.

Kini, berbagai produk kerajinan berbahan limbah mulai dari souvenir, hiasan rumah, hingga perlengkapan meubel yang mereka hasilkan mulai ramai dipesan pelanggan.

Keuntungan dari penjualan kerajinan berbahan limbah ini jadi penghasilan tambahan bagi para pemuda, di luar mata pencaharian utama mereka.

"Harapannya masyarakat bisa ikut tergerak, sehingga limbah bisa dikelola dengan baik, bukan jadi sumber masalah," katanya.(*)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help