Ngopi Pagi

Pilgub Jateng Asyik

Asyik, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, antara lain berarti dalam keadaan sibuk (melakukan sesuatu dengan gemarnya).

Pilgub Jateng Asyik
tribunjateng/m nur huda
Maskot Pilgub Jateng 2018 berupa SEMAR 

TRIBUNJATENG - Asyik, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, antara lain berarti dalam keadaan sibuk (melakukan sesuatu dengan gemarnya).

Kata ini dipakai Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam menanggapi poros baru di Pilgub Jateng, sebelum ia resmi dicalonkan lagi oleh partainya, PDI Perjuangan.

Ganjar memang lebih suka pakai bahasa gaul dalam berkomunikasi dengan warganya. Mungkin itu pula ia terkesan sangat menikmati dengan identintas baru Jawa Tengah, Jateng Gayeng, sejak awal ia memimpin.

Jateng Gayeng sendiri memiliki makna penuh semangat, berani, tangguh, jujur, ramah, menggembirakan, harmonis, dan hangat.

Akhir 2017 lalu muncul isu poros baru yang digawangi PPP, Golkar dan Demokrat di Pilgub Jateng. Dengan santai ia menjawab lebih banyak partisipan atau calon yang dimunculkan di Pilgub Jateng akan lebih baik. Menurut dia, makin banyak partisipan nuansa demokrasi akan terasa di Jateng.

Selain itu, nuansa representasi atau keterwakilan dari berbagai kelompok masyarakat akan makin menarik.

"Kalau lebih banyak, kan membuat oh ternyata Jateng calonnya banyak. Dan banyak kandidat yang bisa menjadi calon pemimpin. Dari pada berdua (head to head), kan enggak asik," ucap Ganjar seperti dikutip Tribun Jateng, Selasa (2/1/2018).

Ganjar memang benar dan diharapkan demokrasi di Jateng benar asyik. Hanya saja, meski masih sebatas hasil penelitian, generasi milenial cenderung kurang minat terjun ke politik.

Temua survei Litbang Kompas pada 25-27 Oktober 2017, misalnya, menyebutkan 11,8 persen generasi milenial yang mau jadi anggota partai, 86,3 persen tak bersedia, sisangan 1,9 persen tak tahu. Generasi milenial atau generasi Y adalah lahir rentang 1983-2001 (Elwood Carlson).

Generasi ini antara lain, disebut-sebut memiliki karakter susah diatur, dan akrab dengan media sosial dan teknologi digital.

Ali Rifan, Dirfektur Riset Monitor Indonesia, mengatakan, partai merupakan sirkulasi kepemimpinan, baik eksekutif, legislatif, kemimpinan nasional maupun lokal. Jika minat generasi milenial untuk terjun ke politik sangat rendah, berpotensi mengancam tersumbatnya sirkulasi itu. Regenerasi kepemimpinan, ujarnya, akan berkutat pada 4 L (Lu Lagi Lu Lagi).

Perkembangan potilik (Pilkada) di Jateng terkini, hanya dua pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang mendaftar ke KPUD Provinsi. Padahal itu sudah batas akhir pendaftaran Pilkada Jateng, Mereka adalah pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) dan Sudirman Said- Ida Fauziyah.

Ganjar-Yasin diusung koalisi lima partai, yakni PDI-P, Golkar, Demokrat, PPP dan Nasdem. Sementara pasangan Sudirman-Ida didukung koalisi empat partai, yakni Gerindra, PKS, PAN, dan PKB
Kalau demikian, kurang asyik jika Pilgub Jateng hanya diiukti dua pasangan. Ini bisa membikin orang tergoda menyebut 4 L.

Namun, tidak pula bisa secepat itu bisa dibenarkan. Pilgub Jateng bisa asyik, jika jumlah pemilih nanti cukup signifikan, dan sedikit yang golput. Dalam arti lain masyarakat Jateng antusias mengikuti Pilgub, trkhusus pemilih dari generasi milenial; KPUD dan partai, utamanya, harus bersikeras mewujudkan keasyikan itu.

Pun para calon, yang dengan track record dan daya simpatinya, juga kepiawaiannya memanfaatkan media sosial, bisa membuat generasi milenial kian bergairah berpolitik.(*)

Penulis: sujarwo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help