TribunJateng/

Psikolog : Jangan Ajarkan Selfie Pada Anak-Anak. Kalau Kecanduan Bisa Berakibat Ini

Selfie atau mengambil foto diri sendiri, sudah menjadi kebiasaan masyarakat yang tidak bisa dielak.

Psikolog : Jangan Ajarkan Selfie Pada Anak-Anak. Kalau Kecanduan Bisa Berakibat Ini
Tribun Jogja/Bramastyo Adhi
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Wilujeng Puspita Dewi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Seiring dengan perkembangan teknologi dan maraknya media sosial,  membuat seseorang memiliki obsesi untuk diakui oleh masyarakat dunia maya.

Selfie atau mengambil foto diri sendiri, sudah menjadi kebiasaan masyarakat yang  tidak bisa dielak.

Psikolog anak, Oktaviana Indrastuti MPsi mengatakan bahwa selfie merupakan satu di antara gangguan psikologis.

Oktaviana Indrastuti MPsi,   saat ditemui Tribunjateng.com di RS Hermina Banyumanik, Jalan Jenderal Pol Anton Sujarwo Nomor 195, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah.  Kamis (11/172018).
Oktaviana Indrastuti MPsi, saat ditemui Tribunjateng.com di RS Hermina Banyumanik, Jalan Jenderal Pol Anton Sujarwo Nomor 195, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah. Kamis (11/172018). (TRIBUN JATENG/WILUJENG PUSPITA)

"Mengapa disebut gangguan psikologi atau gangguan mental kronis, karena  penderita tidak bisa berhenti memikirkan penampilannya dari cacat sedikit pun. Penderita akan melakukan selfie puluhan kali demi mendapatkan dirinya yang sempurna," tutur Oktaviana saat ditemui Tribunjateng.com,  di RS Hermina Banyumanik, Jalan Jenderal Pol Anton Sujarwo Nomor 195, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah.  Kamis (11/1/2018).

Mirisnya, selfie juga ditirukan oleh banyak anak-anak kecil.

"Anak-anak adalah peniru ulung.  Mereka akan merekam dalam otak setiap kejadian yang mereka lihat.  Satu di antaranya adalah kebiasaan selfie, baik yang dilakukan oleh keluarganya sendiri maupun lingkungan,"  tutur Oktaviana.

Masa Golden Age atau masa emas (0-6 tahun) merupakan masa dimana otak anak mengalami perkembangan pesat.  Baik perkembangan motorik, kognitif, emosi maupun sosial.
Sedangkan anak usia 6-12 tahun merupakan masa masa operasional konkrit dimana pembentukan karakter dan jatidiri sudah dimulai.

Apabila dalam dua fase tersebut,  anak-anak sudah kecanduan dengan selfie, dapat merusak perkembangan emosi dan sosialnya.

Berikut ini empat bahaya selfie yang Oktaviana lontarkan kepada Tribunjateng.com :

1. Gangguan Mental. 
penderita tidak bisa berhenti memikirkan penampilannya dari cacat sedikit pun. Penderita akan melakukan selfie puluhan kali demi mendapatkan dirinya yang sempurna.

2. Krisis Percaya Diri. 
Anak-anak berusaha memperoleh perhatian dengan jalan membohongi dirinya melalui sebuah foto.

3. Narsis
Narsis merupakan sebuah penyakit yang mengharap pujian dan kekaguman orang lain. Narsis berlebih membuat anak akan tumbuh menjadi orang yang tidak bisa menerima kritikan.

4. Kecanduan. 
Pujian dan kekaguman yang anak dapatkan dari dunia maya,  membuat si anak lebih bahagia dengan bayangannya sendiri.  Komunikasi satu arah tersebut, membuat si kecil mudah mengumbar semua emosi kepada publik. 
Kecanduan selfie maupun media sosial membuat anak-anak mudah marah dan tidak dapat memecahkan masalah dengan baik.

"Jika ada banyak ibu yang mengajarkan selfie kepada anak-anak,  ini yang harus diobati terlebih dahulu sepertinya ibunya," tutur Psikolog Oktaviana.

Penulis: Wilujeng Puspita Dewi
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help