Dari Pekalongan, Cetakan Batik Jaman Now Buatan Amat Dipasarkan ke Berbagai Kota

Deru mesin gergaji terdengar dari kejahuan saat melintas di depan workshop kayu Amat Sochib

Dari Pekalongan, Cetakan Batik Jaman Now Buatan Amat Dipasarkan ke Berbagai Kota
Tribun Jateng/Budi Susanto
Bengkel kerja cetakan batik dari kayu milik Amat Sochib yang terletak di belakang Pasar Geogolan Kelurahan Landungsari Kecamatan Pekalongan Selatan, Sabtu (13/1). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Suanto

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Deru mesin gergaji terdengar dari kejahuan saat melintas di depan workshop kayu Amat Sochib.

Cetakan batik terlihat menumpuk di bengkel kerja milik Amat Sochib (54) yang terletak di belakang Pasar Geogolan Kelurahan Landungsari Kecamatan Pekalongan Selatan.

Dari proses pembuatan cetakan batik Amat bisa meraup keuntungan puluhan juta rupiah tiap bulannya.

Dikatakan Amat awalnya ia bekerja ikut orang untuk membuat cetakan batik dari tembaga, namun karena bahan baku tembaga semakin lama semakin mahal Amat berinisiatif membuat cetakan dari kayu.

"Awalnya modal saya hanya kayu amplas dan gergaji, karena bahan baku tembaga mahal saya berpikir untuk membuat dari kayu," ujarnya.

Amat sendiri sudah berkecimpung dalam dunia percetakan batik bertahun-tahun, namun dengan modal kreatif ia memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri.

Cetakan batik dari kayu yang dibuat oleh Amat Sichib, Sabtu (13/1).
Cetakan batik dari kayu yang dibuat oleh Amat Sichib, Sabtu (13/1). (Tribun Jateng/Budi Susanto)

"Sekarang cetakan yang saya buat dipakai hampir seluruh industri batik di Pekalongan dan Semarang, kendalanya terkait kerumitan cetakan yang dipesan ileh pelanggan, karena motif batik beraneka ragam," paparnya.

Pria yang sudah merintis usaha pembuatan cetakan batik dari kayu sekitar lima tahun tersebut, menjual cetakan dengan harga terjangkau dibanding cetakan dari tembaga.

"Paling murah Rp 15 ribu dan paling mahal Rp 50 ribu, harga tergantung tingkat kesulitan motif yang dibuat, harga yang saya patok selisihnya sangat jauh kalau dibanding cetakan tembaga yang berkisar Rp 400-500 ribu," imbuhnya.

Hingga kini Amat dibantu oleh dua anaknya untuk memenuhi pesanan baik dari Pekalongan dan luar kota.

"Karena lebih murah dari cetakan kuningan jadi pesanan lumayan banyak, selain itu bahan yang saya gunakan juga sudah disortir agar tahan lama," kata Amat.

Diakui pria 54 tahun tersebut, pihaknya kualahan menerima pesan dari beberpa industri batik.

"Sebenarnya kami butuh alat modern yang lebih cepat agar produksi cetakan bati dari kayulebih banyak," pungkasnya.

(*)

Penulis: budi susanto
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved