Mantan Deputi Gubernur BI Beberkan Dua Krisis Keuangan Indonesia Dalam Pidatonya

Kedua krisis itu pun dinilai mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D Hadad mempengaruhi stabilitas moneter domestik di Indonesia.

Mantan Deputi Gubernur BI Beberkan Dua Krisis Keuangan Indonesia Dalam Pidatonya
Tribun Jateng/hermawan endra
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah usai mengisi acara sosialisasi pengutan kerangka operasi moneter di Kantor BI Jateng, Kamis (8/9) 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berdasar dari dua krisis besar yang pernah dialami di Indonesia, yakni krisis keuangan Asia pada 1997-1998 dan krisis keuangan global pada 2008-2009, memberikan pelajaran berharga begitu pentingnya menjaga kesinambungan pembangunan dan pertumbuhan.

Kedua krisis itu pun dinilai mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D Hadad mempengaruhi stabilitas moneter domestik di Indonesia.

Berbagai upaya memulihkan krisis itu pun dilakukan dalam menata perekonomian dan moneter di Indonesia.

Hal itu disampaikan Muliaman saat berpidato dalam upaca pengukuhannya sebagai Guru Besar Tidak Tetap Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) di Gedung Prof Soedarto Undip Kampus Tembalang Kota Semarang, Sabtu (13/1/2018).

Baca: Ribuan Personil TNI Polri Dikerahkan Saat Apel Persiapan Pengamanan Kunjungan Kerja Presiden

Menurutnya, berkaca pada hal tersebut, pemeliharaan stabilitas sistem keuangan baik domestic maupun global menjadi elemen penting dalam pembangunan ekonomi.

Stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan menjadi mantra baru dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

"Mengantisipasi potensi krisis di masa mendatang, ada kecenderungan masih mengandalkan pengalaman di masa lalu. Padahal, tidak ada krisis apapun yang benar- benar sama persis. Karenanya, pengalaman krisis di masa silam tidak akan banyak membantu dalam memprediksi bahkan mencegah krisis di masa mendatang," jelasnya.

Menurutnya, diperlukan perubahan paradigma sebagai cara pandang baru yang lebih berorientasi pada forward looking. Sehingga akan lebih mudah menyesuaikan diri terhadap situasi terkini.

Halaman
12
Penulis: deni setiawan
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help