TribunJateng/

Ngopi Pagi

Politik Baper

Pilkada 2018penuh kejutan. Publik dituntut arif memaknai kebijakan dan keputusan partai, dan terutama kepentingan para politisi

Politik Baper
tribunjateng/dok
Pilkada serentak di Jawa Tengah akan digelar 27 Juni 2018 

TRIBUNJATENG.COM - Pilkada 2018penuh kejutan. Publik dituntut arif memaknai kebijakan dan keputusan partai, dan terutama kepentingan para politisi dalam persaingan memperebutkan kursi gubernur, walikota dan bupati. Jika terbawa arus kepentingan mereka, publik akan larut dan ikut-ikutan emosional. Sayangnya, fakta itulah yang kini tengah kita saksikan.

Kejutan bernuansa kampanye hitam datang dari La Nyalla. Ia sampai menggelar jumpa pers dan mengaku diminta uang Rp 40 miliar oleh Prabowo Subianto untuk mendapatkan rekomendasi Bakal Calon Gubernur Jawa Timur dari Partai Gerindra. Sontak publik kaget. Terutama, La Nyalla sampai harus menggelar jumpa pers. Itu sama artinya dengan menelanjangi Prabowo dan Partai Gerindra.

Publik sebetulnya sudah paham kalau politik itu mahal. Publik juga sudah tidak heran kalau seorang bakal calon harus mengeluarkan uang besar untuk maju menjadi kandidat. Kata "mahar" juga sudah terdengar sejak dulu, namun tidak pernah jelas terminologinya. Tak ada satu pun ketua partai yang mengaku meminta mahar kepada calon kandidat. Tapi untuk biaya kampanye dan kepentingan pemilihan, sudah pasti partai akan banyak menyerahkan pada kandidat. Pada titik inilah publik harus arif mencerna apa yang dikemukakan La Nyalla. Apalagi, di kalangan publik sendiri masih terbiasa dengan berharap menerima uang dari kandidat.

Informasi yang diungkapkan La Nyalla itu tidak semata-mata demi mengungkap kebenaran soal uang dalam dunia perpolitikan, karena ia sendiri mengakui setuju dengan Rp 40 miliar tersebut, hanya soal waktu yang tak disepakati, antara sebelum rekomendasi keluar dan pasca rekomendasi keluar. Pengungkapan Informasi tersebut, terutama caranya, justru lebih kental nuansa politiknya, terutama menjelang Pemilihan Presiden 2019. Informasi tersebut dengan mudah bisa kita baca: sangat menguntungkan kubu Jokowi yang sudah dipastikan akan melenggang lagi dalam pencalonan pemilihan presiden.

Kita yakin Jokowi akan arif menghadapiblack campaignyang bertujuan menghancurkan pesaingnya. Ia cukup dengan diam. Namun kita tahu, pasca Pemilihan Presiden 2014 ini, perang urat syaraf antara publik pendukung Prabowo dan pendukung Jokowi seakan tak pernah sembuh. Jika elite politik bisa berdamai dengan dasar kepentingan, akar rumput terus membawa bara karena fanatiknya dalam dukung mendukung. Maka tak heran informasi La Nyalla itu langsung disambar di media sosial dengan aneka bumbu. Yang paling berbahaya adalah stigma yang ditimpakan pada Prabowo sebagai pemalak, padahal belum tentu demikian. Kesaksian Ridwan Kamil dan Sandiana Uno yang pernah diajukan Prabowo sebagai kepala daerah bisa dijadikan informasi pengimbang.

Kekecewaan dalam politik hanyalah bagian dari secuil kekecewaan dalam hidup. Orang tidak perlu cengeng dan manja dengan kekecewaan. Rupanya jam terbang La Nyalla belum teruji dalam dunia politik. Kekecewaan, bahkan sakit hati karena tidak mendapatkan jatah kekuasaan atau kursi, hanyalah soal biasa dalam berpolitik. Seorang politisi yang gagal mendapatkan jabatan tidak perlu melancarkan serangan kepada sesama politisi. Jika La Nyalla tidak setuju dengan budaya uang dalam dunia politik, sejatinya ia harus mundur dari awal. Kekecewaan yang diumbar dengan nuansa dendam hanya membuat demokrasi semakin tidak sehat, karena memperkeruh di tingkat akar rumput.

La Nyalla perlu belajar pada Ake Komarudin, politisi Golkar yang dicopot dari jabatannya sebagai Ketua DPR tanpa alasan yang jelas. Ade legawa dan ia tidak mendiskreditkan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto. Hal yang sama ditunjukkan oleh Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry Nuradi yang gagal mendapat tiket ke Pilgub 2018. Padahal sebelumnya ia sudah digadang-gadang.

Kecewa dan sakit hati itu biasa, apalagi dalam politik. Tapi seperti kata anak muda sekarang, tidak perlu baper-lah.*

Penulis: cecep burdansyah
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help