Ngopi Pagi

Jangan Sepelekan (Pendidikan) Agama

Kasus pembunuhan driver taksi online di Kota Semarang menghentak kita semua. Bagaimana tidak, pelakunya adalah dua pelajar

Jangan Sepelekan (Pendidikan) Agama
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
RUSTAM AJI wartawan Tribun Jateng 

TRIBUNJATENG.COM -  Kasus pembunuhan driver taksi online di Kota Semarang menghentak kita semua. Bagaimana tidak, pelakunya adalah dua pelajar yang bisa dibilang baru mentas dari sekolah menengah pertama.

Tak sekadar karena pelakunya masih tergolong remaja, tetapi cara keduanya mengeksekusi korban terbilang sangat sadis, seolah tak kalah dengan pelaku kriminal yang dilakukan oleh orang dewasa.

Sungguh miris. Dua anak yang masih remaja mampu merencanakan dan melakukan pembunuhan dengan cara yang biadab. Di mana nilai-nilai karakter sebagai seorang pelajar yang santun, sopan, dan bermoral?

Entah, motif apa yang ada dalam benak dua remaja sadis itu. Kalau hanya sekadar butuh uang untuk membayar tunggakan SPP, barangkali terlalu naïf karena orangtua mereka katanya tergolong mampu. Di sekolah mereka menempa ilmu, juga ada kelonggaran pembayaran manakala ada penunggakan. Sungguh tak masuk akal, keduanya mampu melakukan perbuatan biadab itu!

Namun, itulah kenyataan yang ada. Di mana dua remaja yang masih pelajar itu, tega menghabisi seorang driver taksi online yang tengah mencari nafkah untuk keluarganya, tanpa ada belas kasihan.

Secara luas, barangkali ada yang perlu dikritisi dari pola pendidikan di sekolah umum saat ini, yakni minimnya pendidikan keagamaan. Di tengah gempuran globaliasasi, di mana internet sangat mendominasi, dan uang menjadi “segala-galanya”, mestinya pendidikan keagamaan di sekolah umum (negeri), perlu ditambah jam pelajaran agamanya.

Pelajaran agama tak lagi bisa dianggak sepele: sekadar ada! Masif dilakukan hanya ketika mau ujian nasional saja. Tetapi setelah itu pendidikan keagamaan dianggap menjadi urusan masing-masing pelajar.

Bisa jadi, apa yang dilakukan oleh kedua pelajar pelaku pembunuhan driver online tersebut, karena mereka jauh dari pendidikan keagamaan. Mereka lebih suka tongkrong dengan teman-temannya, ketimbang harus menghadiri kegiataan keagamaan atau menambah pengetahuan tentang agamanya.

Padahal, bila melihat tantangan saat ini --hidup yang hedonis—pendidikan keagamaan perlulah untuk ditambah sebagai bentuk benteng diri.

Betapa pendidikan keagamaan sangat penting, kita bisa melihat apa yang dilakukan oleh nenek moyang kita. Di mana, bangunan peradaban, tidak pernah meninggalkan agama. Tengoklah apa yang ditinggalkan mereka, sebut saja misalnya Candi, masjid, ataupun gereja sebagai jejak sejarah.

Bangunan tempat ibadah itu, tentu tak sekadar ada, tetapi menjadi pusat kekuatan para pendahulu kita dalam membangun peradaban. Tempat ibadah dibangun secara megah. Karena itu, dalam sejarah peradaban manusia, kita banyak menjumpai tempat-tempat ibadah sebagai peninggalan yang masih berdiri kokoh hingga sekarang.

Tentu saja, tempat ibadah itu sebagai simbol bahwa dalam kehidupan mereka (nenek moyang kita) telah menempatkan agama sebagai kekuatan spiritual yang tak dianggap sepele, namun sebagai sesuatu yang Agung dan mulia. (*)

Penulis: rustam aji
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help