Biaya Pendidikan Anak Almarhum Guru Budi Ditanggung Pemerintah, Status PNS bagi Ayahnya Batal

Anak Budi masih berusia lima bulan di kandungan ibunya, ayahnya meninggal karena dianiaya siswa.

Biaya Pendidikan Anak Almarhum Guru Budi Ditanggung Pemerintah, Status PNS bagi Ayahnya Batal
SURYA/KHOIRUL AMIN
Sianit Sinta, istri mendiang guru Budi yang tengah hamil lima bulan, menunjukkan biola kesayangan almarhum 

TRIBUNJATENG.COM, SAMPANG - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menjamin biaya pendidikan calon anak almarhum Ahmad Budi Cahyono, guru SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang.

Guru ini meninggal dunia karena dianiaya oleh muridnya, HI.

Meski anak Budi masih berusia lima bulan di kandungan ibunya, pemerintah sudah menjamin semua biaya pendidikannya kelak ketika bersekolah.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad, ketika mengunjungi rumah duka, Sabtu (3/2/2018), mengatakan, Kemendikbud sudah menyiapkan mekanisme khusus bagi anak Budi Cahyono untuk mendapatkan beasiswa pendidikan.

Mekanisme tersebut akan diatur lebih lanjut.

"Pemerintah sudah menjamin penuh pendidikan anak-anak almarhum kelak ketika sudah sekolah. Ini kebijakan dari Pak Menteri," ujar Hamid Muhammad.

Awalnya, Kemendikbud berencana memberikan apresiasi besar kepada ayah kandung korban, Muhamad Satuman Ashari, untuk menjadi PNS istimewa karena jasanya sebagai guru honorer di SMAN 1 Sampang selama 20 tahun.

Karena terganjal aturan di Badan Kepegawaian Negara (BKN), penghargaan tersebut batal.

"Kami tidak bisa menabrak aturan pengangkatan PNS istimewa kepada ayah korban. Sehingga biaya pendidikan anak-anak korban saja yang bisa diberikan kelak," imbuh Hamid Muhammad.

Hamid prihatin atas kejadian penganiayaan guru oleh murid.

Apalagi peristiwa itu terjadi di Madura.

Orang Madura dikenal sangat menjunjung tinggi akhlak kepada gurunya setelah kedua orangtuanya.

Bahkan orang Madura memiliki filosofi yang kuat yang dikenal dengan sebutan, Bhuppa-Bhabbu', Ghuru Rato (Ayah-Ibu, Guru-Raja).

"Pergeseran budaya mungkin sudah banyak mempengaruhi kondisi sosial di Madura. Tapi mungkin ini hanya satu kasus yang tidak bisa digeneralisir," ungkapnya. (kompas.com/taufiqurrahman)

Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved