Buku Risalah Awwal Rencananya akan Jadi Acuan Kenaikan Kelas di Sekolah Kabupaten Tegal

Pemerintah menyosialisasikan buku Risalah Awwal untuk siswa SD dan SMP se-Kabupaten Tegal di Pendopo Amangkurat Kabupaten Tegal

Buku Risalah Awwal Rencananya akan Jadi Acuan Kenaikan Kelas di Sekolah Kabupaten Tegal
ISTIMEWA
bupati tegal, enthus susmono, membaca sambutan saat sosialisasi buku risalah awwal di pendopo amangkurat kabupaten tegal 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Pemerintah menyosialisasikan buku Risalah Awwal untuk siswa SD dan SMP se-Kabupaten Tegal di Pendopo Amangkurat Kabupaten Tegal, Sabtu (2/2/2018).

Buku Risalah Awwal berisi mengenai ketauhidan (meng-esakan Allah). Sehingga, diharapkan generasi Tegal bisa memiliki akidah dan akhlaqul karimah.

Bupati Tegal, Enthus Susmono, mengatakan buku Risalah Awwal rencanananya akan menjadi acuan kenaikan kelas.

"Pembelajaraan Risalah Awwal sebagai solusi dilema saat ini. Karena isi kitab tersebut adalah sifat- sifat wajib mustahil dan jaiz Allah sebagai perkuat ketauhidan," kata Enthus dalam keterangannya, Minggu (3/2/2018).

Kedepannya, pemerintah menganggarkan Rp 200 juta untuk buku Risalah Awwal dan Rp 300 juta untuk pemancar di Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren untuk siaran soal Risalah Awwal di Radion Slawi Ayu.

Dalam kegiatan itu, juga dilakukan penandatanganan dokumen sebagai tanda dimulainya pembelajaran kitab tersebut ke lembaga- lembaga pendidikan.

Penandatanganan oleh Bupati Tegal dan Pengasuh Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syeh Said bin Armia Giren, Kaligayam, Talang, Kabupaten Tegal.

Enthus mengatakan, ilmu tauhid adalah ilmu yang utama dari ilmu lainnya. Karena kekuasaan dan agama tidak bisa dipisahkan.

"Untuk itu, diharapkan generasi Tegal menjadi generasi beraqidah dan berakhlaqul karimah lewat pembelajaran buku Risalah Awwal," ucapnya.

Pada kesempatan sama, Syekh Said bin Armia selaku pengasuh pondok pesantren Attauhidiyyah Giren menyampaikan kekhawatirannya tentang generasi masa kini yang sedikit akan tuntunan dan banyaknya tontonan.

"Sehingga, tontonan menjadi tuntunan. Dan kekhawatiran kami tentang penyelewengan sejarah dalam pelajaran," imbuh Syekh Said.

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help