Prof Muladi Beri Wejangan Civitas Akademika Universitas Semarang

Hal tersebut disampaikan Pendiri USM dan Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip Prof Dr Muladi, Sabtu (3/2/2018).

Prof Muladi Beri Wejangan Civitas Akademika Universitas Semarang
ISTIMEWA
Prof Dr Muladi SH didampingi Rektor USM Andy Kridasusila dan Wakil Rektor III Mochammad Chaerul Latif memberikan arahan kepada aktifis mahasiswa di Kampus USM Semarang, Rabu (6/12/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berbicara soal etika manusia, dapat tergambarkan pula di dunia pendidikan. Tidak terkecuali di perguruan tinggi seperti Universitas Semarang (USM), yang jika dikonkritkan lagi yakni pada diri dosen (akademisi) di lingkungan tersebut.

Hal tersebut disampaikan Pendiri USM dan Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip Prof Dr Muladi, kepada Tribunjateng.com, Sabtu (3/2/2018).

Apa yang diungkapkan itu pula telah dipaparkan di hadapan para dosen tetap USM pada Jumat (2/2/2018) petang di Auditorium Ir Widjatmoko USM Jalan Soekarno Hatta Kecamatan Pedurungan Kota Semarang.

Ketua DPP Bidang Hukum dan HAM Partai Golkar Muladi
Pendiri USM dan Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip Prof Dr Muladi (Kompas.com/SABRINA ASRIL)

Menurutnya, ada kaitannya antara etika keilmuan dengan etika manusia yakni adanya turbulensi sosial pada era saat ini yang secara tidak langsung pula perlu dicermati atas berbagai perubahan cepat oleh globalisasi kehidupan manusia.

"USM itu organisasi pendidikan yang jumlah penghuninya lebih dari sekitar 20 ribu orang. Sehingga perlu senantiasa ada koreksi keunggulan sumberdaya terutama dalam hal praktik keilmuan dan etika para akademisinya (dosen). Jika itu tidak dilakukan, bisa berdampak negatif," jelasnya.

Dia menjabarkan, penguasaan ilmu itu tak sekadar kekuatan (power) dan privilege (hak istimewa) seorang ilmuan. Tetapi ada nuansa-nuansa moralitas dan responsibility dalam menjalaninya.

"Ilmu harus bersifat impersonal. Argumentasi ilmu tidak boleh diwarnai emosi. Ilmu itu anti status quo dan tak boleh sekalipun diskriminatif. Dan berkait wawasan keilmuan, mereka senantiasa harus berorientasi pada nilai tambah," jelasnya.

Dia mengutarakan, menjadi ilmuwan pun senantiasa harus dapat meningkatkan produktivitas serta daya saing yang tinggi. Harus menjadi panutan, berperilaku rasional, objektif, serta tidak bertolak ukur ganda.

"Mereka juga harus bermoral, konsisten dalam pemikiran, dalam ucapan maupun tindakan,. Lalu berdasarkan falsafah yang sehat dan memanfaatkan suatu sistem yang telah dikembangkan secara ilmiah," jelas Muladi.

Halaman
12
Penulis: deni setiawan
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help