Tahun Baru Imlek

Mengintip Klenteng Hok Tek Bio Salatiga Jelang Imlek

Pengelola kelenteng Hok Tek Bio Salatiga sedang bersiap menyelenggarakan perayaan Imlek yang akan jatuh pada 16 Februari nanti.

Mengintip Klenteng Hok Tek Bio Salatiga Jelang Imlek
TRIBUN JATENG/PONCO WIYONO
Sonny Hoo (58) pengelola Kelenteng Hok Tek Bio berdiri di samping prasasti penanda berdirinya sembayangan umat konghucu itu, pada Senin (5/2/2018). 

Laporan wartawan Tribun Jateng, Ponco Wiyono

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Pengelola kelenteng Hok Tek Bio Salatiga sedang bersiap menyelenggarakan perayaan Imlek yang akan jatuh pada 16 Februari nanti. Selain itu, pengawas kelenteng Sonny Hoo (58) ‎mengatakan pihaknya juga sedang menyusun terjemahan pada tulisan di prasasti penanda berdirinya kelenteng tersebut.

Hok Tek Bio merupakan tempat ibadah umat konghucu yang dikelola oleh Yayasan Tri Dharma. Nama lain dari kelenteng yang berdiri tahun 1872 ini adalah Amurva Bhumi. Tak ada kelenteng lain di Kota Salatiga selain Hok Tek Bio.

"Sejak Pertama berdiri sampai sekarang kami belum mengetahui arti dari tulisan yang terpahat di prasasti, dan baru belakangan ini kami benar-benar berniat menyusun terjemahannya," kta Sonny, pada Senin (5/2/2018).

Hok Tek Bio memiliki luas kurang lebih 600 meter persegi, dan terbagi atas tiga altar. Altar utama merupakan altar Dewa Bumi, yang dikatakan Sonny merupakan dewa tuan rumah.

"Jadi setiap kelenteng itu ada dewa yang dijadikan tuan rumah, dan di sini Dewa Bumi merupakan tuan rumahnya. Lain lagi di Tuban, di sana tuan rumahnya Dewa Kejujuran dan Keadilan," jelas Sonny lagi.

Menampung 250 hingga 300-an jemaat, Hok Tek Bio juga disebut kerap didatangi jemaat asal luar Kota Salatiga. Pada tanggal 8 Februari esok, sembahyang menjelang pagi bersih akan digelar, waktunya sekitar pukul 11 malam.

"Tidak ada alasan tertentu mengenai kenapa kami ambil waktu malam, ini sebatas tradisi," ungkap Sonny, lelaki paruh baya yang saat itu sedang mengawasi dua orang pekerja memperbaiki pintu.

‎Harapan atas penerjemahan prasasti sendiri, menurut Sonny adalah agar jemaat tahu siapa leluhur mereka yang mendirikan kelenteng tersebut. Sebab menurut Sonny, sejauh ini tidak diketahui tokoh-tokoh tionghoa di masa lampau yang turut membidani lahirnya tempat sembahyang umat Konghucu itu.

"Di masa lalu belum terpikir apakah anak cucu mereka akan kesulitan mengartikannya. Sebab dalam satu huruf bahasa mandarin bisa geragam artinya, ma misalnya, itu bisa bermakna ibu atau juga kuda," papar Sonny.

Selain nama pendiri, dalam prasasti tersebut dikatakan Sonny terdapat beberapa angka yang kemungkinan merujuk pada besaran biaya pembangunan kelenteng Hok Tek Bio.‎

Penulis: ponco wiyono
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help