Ngopi Pagi

Serbuan Buruh Asing

Tenaga kerja asing menyerbu Jawa Tengah? Bukannya warga lokal sendiri masih membutuhkan banyak lapangan pekerjaan?

Serbuan Buruh Asing
tribunjateng/dok
ILUSTRASI 

TRIBUNJATENG.COM - Tenaga kerja asing menyerbu Jawa Tengah? Bukannya warga lokal sendiri masih membutuhkan banyak lapangan pekerjaan? Mengapa harus mempekerjakan tenaga asing?

Sederet pertanyaan bisa saja mengemuka ketika melihat angka tenaga kerja asing, terutama di Jateng, terus bertambah setiap tahunnya.

Berdasar informasi yang dihimpun Tribun Jateng, yang termuat hari ini (6/1), di awal tahun 2016 ada 2.007 TKA, di akhir tahun 2016 menjadi 1.986 TKA, dan sampai akhir 2017 lalu telah mencapai 2.119 TKA, atau bertambah 112 TKA.

Mereka tersebar di kota-kota Jawa Tengah, dan paling banyak berada di Kota Semarang mencapai 181 orang, disusul Kabupaten Semarang, Cilacap, Jepara, serta Batang.

Keberadaan mereka tak bisa terelakkan seiring, dunia investasi kita yang memang berusaha menggaet investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di sini.

Tenaga kerja asing ini umumnya bekerja di perusahaan modal luar negeri. Mereka membawa pekerja asal negara mereka sendiri, yang biasanya dengan alasan untuk penetapan standar kerja yang dibuat oleh perusahaan.

Bisa dipahami, terlebih bila perusahaan tersebut merupakan berbasis teknologi dan membutuhkan tenaga ahli yang sudah mahir mengerjakannya. Misalnya, pengoperasian mesin bertekonlogi baru atau top management perusahaan yang berjaringan global.

Kita berharap, di kemudian hari, ada transfer ilmu pengetahuan, tenaga kerja asing yang memang sudah ahli mengajari tenaga kerja lokal. Selanjutnya, bila tenaga kerja lokal sudah mahir, pekerjaan tersebut bisa diambil alih.

Terkait tenaga kerja asing ini, yang sering menjadi persoalan, yaitu banyak pula tenaga migran ini bekerja di sektor "pekerjaan kasar".

Seperti yang terungkap Desember 2017 lalu di proyek pembangunan jalan tol Pekalongan-Batang. Ada 13 tenaga kerja asal China, yang kemudian diamankan dan dideportasi.

Dari pemeriksaan dokumen oleh pihak terkait, diketahui hanya lima tenaga kerja asing tersebut yang memiliki Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) dari Kemenaker RI. Bahkan, izin lokasi kerja dua orang di antaranya, bukan di wilayah Jawa Tengah.

Kepala Bidang Pengawas Ketenagakerjaan Disnakertrans Provinsi Jateng, Budi Prabawaning Dyah, mengatakan, tenaga kerja asing ilegal ini datang hanya bermodal paspor dan menggunakan visa kunjungan atau wisata. Seraya menunggu proses keluarnya IMTA, mereka sudah bekerja. (tribunjateng.com, 23 Desember)

Selama tahun 2017, Divisi Imigrasi Kemenkumham Kanwil Jateng pun telah mendeportasi Warga Negara Asing (WNA) tanpa melalui proses Pro Justicia (tindakan administrasi keimigrasian) berjumlah 138 orang. Mereka
yang dideportasi tersebut rata-rata menyalahgunakan perizinan, melebihi batas waktu, dan tidak mempunyai kelengkapan dokumen. Selain itu WNA yang dideportasi melalui projusticia berjumlah 12 orang. tribunjateng.com, 27 Desember).

Kita tentu tak ingin, angka-angka bermasalah tersebut bukanlah sebuah "fenomena gunung es", sebagian kecil yang terungkap, namun dalam faktanya ternyata angkanya lebih besar.

Dalam hubungan interaksi global memang memungkinkan, siapa saja bisa bekerja di manapun, termasuk tenaga kerja asing yang masuk Indonesia. Hanya saja, mereka yang masuk sudah semestinya bukanlah kelas "pekerjaan sektor kasar". (*)

Penulis: moh anhar
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved