Seniman Mancanegara Cicip Tahu Aci Khas Tegal dan Lihat Bangunan Tua Pabrik Gula Pangkah

Sejumlah seniman dari mancanegara yang mengisi di acara Bumijawa Festival diajak untuk berkeliling menikmati kekhasan Kabupaten Tegal

Seniman Mancanegara Cicip Tahu Aci Khas Tegal dan Lihat Bangunan Tua Pabrik Gula Pangkah
Tribunjateng.com/Mamdukh Adi Priyanto
Para seniman dari mancanegara melakukan field trip di pabrik gula Pangkah Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM,SLAWI - Sejumlah seniman dari mancanegara yang mengisi di acara Bumijawa Festival diajak untuk berkeliling menikmati kekhasan Kabupaten Tegal.

Field trip ini berakhir di Pabrik Gula Pangkah, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal.

Sebelumnya, para seniman itu mengisi acara di festival budaya di Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, pada Sabtu dan Minggu (3-4/2/2018).

Setiba di pabrik gula yang berusia ratusan tahun itu, pengelola pabrik gula itu menyambut hangat para seniman itu dan menyuguhkan berbagam macam makanan khas Kabupaten Tegal.

Makanan yang disajikan di antaranya ada tahu aci, sayur asem, wader, mujahir goreng, petai, es tebu dan polo pendem.

Bangunan tua pabrik gula menjadi daya tarik tersendiri.

Satu persatu bagian dari bangunan pabrik dikunjungi. Dimulai makan di Rumah Besaran, bengkel lokomotif, Stasiun Besali, Stasiun Ketelan, Stasiun Pabrik Tengah, Stasiun Puteran, dan Stasiun Listrik. Kemudian, menuju Argo Wisata PG menggunakan kereta loko tebu dan berakhir di Stasiun Gilingan.

"Setiap tempat yang ada di Pabrik Gula Pangkah ini kami beri nama dengan stasiun. Bangunan- bangunan yang ada ini merupakan bagian dari pabrik gula," kata Humas PG Pangkah, Didiet, dalam keterangannya.

Seorang seniman asal Jepang, Satoko, mengungkapkan awalnya mengira tidak ada yang bisa dilihat di pabrik gula tua tersebut.

Namun, setelah dirinya masuk ke dalam pabrik, ia merasa terkejut karena melihat isi pabrik.

"Awalnya saya sedikit malas. Tapi, setelah masuk pabrik, ternyata mesinnya itu ternyata buatan Belanda, Jerman, bahkan Jepang, kemudian cara membuatnya juga menurut saya rumit walaupun mesinya sudah tua tetapi masih bisa dipakai," ujarnya.

Menurutnya, zaman sekarang ini, semuanya serba menggunakan teknologi. Di Jepang pun semuanya serba robot.

"Tetapi, di sini masih ada tangan dan kontrol manusia, masih memberdayakan manusia bukan robot, ini yang membuat saya terkesan," herannya. (*)

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help