TribunJateng/

Ngopi Pagi

Ini Perang Saya

BOLA panas dugaan korupsi mega proyek e-KTP menggelinding membesar dan mengganas menyasar tokoh penting

Ini Perang Saya
Tribun Jateng/akbar hari murti
SBY saat ditemui di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Kamis (30/11/2017). 

TRIBUNJATENG.COM - BOLA panas dugaan korupsi mega proyek e-KTP menggelinding membesar dan mengganas menyasar tokoh penting serta pembesar partai politik.

Setelah bola panas itu menjebloskan Setya Novanto ke penjara, melengserkan dari jabatan Ketua DPR serta Ketua Umum Partai Golkar, kini lidah apinya mulai menjilat Gamawan Fauzi mantan Mendagri dan Susilo Bambang Yudhoyono Presiden RI ke 6, yang juga Ketua Umum Partai Demokrat.

Awalnya bola api cukup rumit menjilat kursi Setnov namun akhirnya dia dipenjara juga. Belum tentu nasib Setnov menimpa Gamawan Fauzi maupun SBY.

Gamawan menegaskan di persidangan dan bersumpah siap dipenggal kepalanya jika terlibat dalam dugaan korupsi tersebut. Nilai total proyek e-KTP sebesar Rp 5,9 triliun dan disebut merugikan keuangan negara Rp 2,3 triliun hingga kini terus jadi perbincangan di persidangan dan menjelma jadi bola panas yang ganas.

SBY marah namanya disebut di persidangan kasus korupsi e-KTP. "Tidak pernah namanya SBY ikut-ikutan ngurusi proyek, melakukan intervensi atas proyek," kata SBY dalam jumpa pers di Kantor DPP Demokrat, Jakarta, Selasa (8/2/2018). SBY bereaksi keras terhadap penyebutan namanya. Menurut SBY, penyebutan namanya itu penuh dengan rekayasa.

Adalah kuasa hukum Setya Novanto, Firman Amir, dan politisi Partai Demokrat, Mirwan Amir yang menyebut SBY sebagai aktor di balik proyek e-KTP. SBY merasa difitnah atas tuduhan melakukan intervensi dalam proyek e-KTP sewaktu menjabat Presiden. Tidak hanya membantah keras tuduhan tersebut, SBY juga menempuh jalur hukum. Jika tidak melawan, dampaknya bisa membuat rakyat Indonesia percaya tuduhan tersebut.

"Ini perang saya, this is my war. Perang untuk keadilan! Yang penting bantu saya dengan doa," kata SBY yang berjanji akan hadapi tuduhan ini.

SBY menegaskan tidak pernah ada penyimpangan proyek e-KTP yang dilaporkan kepadanya selama menjabat Presiden. Setelah namanya muncul dalam persidangan kasus e-KTP, SBY mengaku meminta penjelasan soal proyek e-KTP kepada para mantan pembantunya. Dia bertemu mantan menteri-menterinya. Di samping bantah tuduhan, SBY juga sekalian curhat.

Dalam jumpa pers tersebut, SBY menceritakan berbagai tuduhan yang pernah diarahkan kepadanya. SBY curhat pernah dituduh menggerakkan dan mendanai aksi massa terkait kasus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dituduh menggerakkan orang melakukan pemboman Istana. Perang makin kentara menjelang Pilkada serentak 2018 dan Pilpres serta Pemilu 2019.

Tuduhan yang dianggap fitnah dan rekayasa oleh SBY ini bisa dijadikan ajang pembelaan dan pembuktian bahwa dirinya tokoh bersih dari korupsi. Jika SBY lolos dari terjangan bahkan mampu padamkan ganasnya "bola api" proyek e-KTP ini dimungkinkan nama besar SBY akan bangkit lagi. Minimal, kemenangan di perang ini akan mendongkrak popularitas SBY maupun keluarganya.

Namun sebaliknya, jika SBY kalah di medan perang seukuran KTP ini catatan sejarah tergores tinta merah. Karena Presiden SBY lah yang utuh mengemban amanah 2004-2014, naik secara gagah menang di Pilpres dan turun terjaga marwah karena memang hanya dibatasi dua periode sebagaimana Amandemen UUD 1945. (*)

Tags
tajuk
Penulis: iswidodo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help