Ngopi Pagi

Aturan Tak Semenakutkan Atasan

Mantan Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi Badan Keamanan Laut (Bakamla) Nofel Hasan yang duduk sebagai terdakwa

Aturan Tak Semenakutkan Atasan
tribunjateng/bram
Galih P Asmoro wartawan Tribun Jateng 

TRIBUNJATENG.COM - Ada pengakuan menarik di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Rabu (7/2) kemarin. Mantan Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi Badan Keamanan Laut (Bakamla) Nofel Hasan yang duduk sebagai terdakwa kasus korupsi tampak menangis saat memberi pengakuan.

Nofel mengatakan jika dirinya menerima uang atas perintah dan paksaan atasannya, Eko Susilo Hadi yang merupakan Sekretaris Utama Bakamla.

Nofel didakwa bersama-sama dua pejabat Bakamla lainnya menerima uang 104.500 dollar Singapura dari Direktur PT Melati Technofo Indonesia, Fahmi Darmawansyah.

"Saya mengaku dan menyesali telah terima uang atas perintah Eko Susilo meski sempat saya tolak, saya takut dimarahi pimpinan," kata Nofel kepada majelis hakim.

Sungguh miris jika apa yang dikatakan Nofel itu benar adanya. Sebab, ia lebih memilih untuk melakukan kesalahan besar, korupsi yang menyeretnya ke pengadilan lantaran takut pada atasannya.

Yang tentunya akan lebih mengkhawatirkan adalah adanya sistem tidak tertulis pada birokrasi dimana bawahan harus menaati perintah atasan meski instruksinya itu jelas-jelas tidak bisa dibenarkan. Dalam kasus Nofel berdasarkan pengakuan itu, ia lebih takut pada atasan dibandingkan hukum atau bahkan dengan Tuhan sekalipun.

Jika sudah demikian, bukan tidak mungkin uang haram korupsi mengalir berjenjang dari tingkat tertinggi hingga paling bawah. Bisa dibayangkan seandainya hal seperti itu terjadi, tentu penjara akan makin sesak dan pelayanan publik bakal terhenti.

Mengerikan lagi adalah kita disuguhi fakta semakin banyak manusia tak takut lagi dengan Tuhan lantaran berani melakukan hal yang jelas-jelas salah. Yang jadi pertanyaan, seberapa banyak pimpinan di birokrasi negeri ini yang punya tabiat seperti atasan Nofel?

Paling layak dikasihani dalam kasus seperti itu adalah birokrat-birokrat jujur. Di satu sisi ia hidup di lingkungan atau jadi bawahan pelaku korupsi yang bertentangan dengan nuraninya, namun di sisi lain, jika ia melawan tentu harus siap dengan risiko. Bisa jadi ia disingkirkan sejauh mungkin agar tidak jadi duri dalam daging empuk perilaku koruptif.

Sebagai pejabat dan pegawai yang sudah berpengalaman, tentu Nofel dan lainnya yang terjerat korupsi, sangat paham jika apa yang dilakukannya adalah bentuk gratifikasi. Hal itu, jelas salah dan ada acaman pidana yang siap menjeratnya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gratifitikasi adalah uang hadiah kepada pegawai di luar gaji yang telah ditentukan. Mengacu pada arti itu, memang sepertinya tidak ada hal negatif terkait gratifikasi.

Sedangkan pengertian gratifikasi menurut penjelasan Pasal 12B UU No. 20 Tahun 2001 adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya.

Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik. Dan berdasar Pasal 12B ayat (1) UU No.31/1999 jo UU No. 20/2001, setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya.

Budaya memberikan gratifikasi di Indonesia pada dasarnya tidak hanya dilakukan kalangan elit saja. Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita banyak menjumpai ucapan terimakasih disertai dengan pemberian sesuatu.

Bisa jadi yang memberikan itu ikhlas dan si penerima juga merasa apa yang dilakukannya dengan menerima itu bukan sebuah kesalahan. Oleh karena itu, hal paling ampuh dalam memberantasnya adalah mulai dari diri sendiri dan siap menanggung segala risiko. (*)

Tags
atasan
Penulis: galih pujo asmoro
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved